EDISI SPESIAL

BERITA LENGKAP

Archive for Juni 2009

Wajah Islam dan Toleransi Agama Di Senegal

without comments

Puluhan orang tampak mengelilingi seorang musisi kulit hitam di kawasan sibuk di Harleem, New York, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Mereka begitu menikmati sajian irama musik khas Afrika yang dimainkan sang seniman, Youssou N’Dour.

Musisi kelahiran Senegal tersebut sejatinya memang sedang mempersiapkan acara khusus di AS. Selain berpartisipasi dalam perhelatan akbar Muslim Voices: Arts and Ideas Festival, dia juga dijadwalkan menghadiri pemutaran perdana film dokumenter perjalanan kariernya di Brooklyn Academy of Music.

Youssou N’Dour (49 tahun) bukanlah musisi kemarin sore. Di blantika musik dunia, namanya sudah demikian tenar. Jutaan albumnya laris manis di seluruh dunia dan dia kerap kali berkolaborasi dengan para musisi kondang, misalnya Sting, Bono, Paul Simon, hingga Bruce Springsteen.

Apa yang membuat karya-karyanya amat dikagumi? Youssou punya kekhasan dalam bermusik, yakni lirik lagunya yang ‘dalam.’ Ada pesan yang kerap ingin dia sampaikan kepada semua orang lewat tembang-tembangnya, di antaranya adalah wajah Islam yang sejuk dan damai.

Ya, Youssou merupakan seorang Muslim. Dan, dengan musiknya itu, dia selalu memiliki sebuah harapan. ”Saya ingin memperlihatkan wajah Islam yang sebenarnya, yakni sebuah agama yang damai dan toleran,” katanya menegaskan, seperti dikutip harian The Daily Star.

Dirinya mengaku sedih setiap kali agamanya dikaitkan dengan citra kekerasan dan teror, terutama oleh media-media Barat. Padahal, bukan itu karakter agama Islam yang diketahuinya, baik di negara asalnya maupun di negara Islam lainnya.

Oleh sebab itulah, Youssou bertekad untuk terus menyajikan musik bertema agama, yang dibalut dengan irama khas Afrika. Dia tidak pantang mundur, kendati tak sedikit kalangan yang mengecamnya lantaran dianggap mencampurkan Islam dengan budaya pop sekuler.

Terlepas dari ‘kampanye’ damai lewat musik ini, apa yang berlangsung di tanah kelahiran Youssou, Senegal, memang merepresentasikan pesan yang ada di dalam lagu-lagu tersebut. Senegal, sebuah negara di Afrika Barat, dikenal sebagai negara mayoritas Muslim yang toleran.

Kehidupan religius bisa dilihat di kota-kota di negara itu. Di ibu kota Dakar, misalnya, jamak dijumpai kaum pria yang mengenakan pakaian Muslim lengkap dengan kopiah putihnya, atau juga wanita-wanita berjilbab.

Shalat berjamaah di tepi jalan adalah pemandangan sehari-hari. Seperti halnya di Kota Suci Makkah dan Madinah, jika sudah tiba waktu shalat fardu, apa pun kegiatan yang sedang dilakukan, para penduduknya akan langsung bersiap melaksanakan shalat.

Kondisi serupa juga merambah hingga ke luar kota Dakar dan pelosok-pelosok desa. Suasana Islami amat terasa. Di desa-desa, bangunan masjid dan mushala bahkan menjadi sesuatu yang wajib untuk dimiliki.

Aliran sufi
Ini tidaklah mengherankan, mengingat agama Islam dianut oleh mayoritas (sekitar 95 persen) penduduk Senegal, yang berjumlah sekitar 11 juta jiwa. Adapun selebihnya adalah pemeluk Kristen Katolik, sebanyak lima persen serta penganut animisme (satu persen).

Perkembangan agama Islam di negara bekas jajahan Prancis ini, tak bisa dilepaskan dari pengaruh aliran tarekat sufi. Ada dua aliran tarekat yang paling berpengaruh, yakni Tarekat Tijaniyya dan Tarekat Muridiyya.

Aliran Tijaniyya punya basis pengikut di Kota Tivaouane dan Kaolack, sementara aliran Muridiyya berkembang pesat di Kota Toubba. Sejak lama, tarekat sufi ini telah memainkan peranan signifikan dalam kehidupan sosial keagamaan serta perjuangan melawan kaum kolonial.

Didirikan tahun 1886 oleh Syekh Ahmed Bamba dan semula merupakan cabang Tarekat Qadiriyya, aliran Muridiyya menjadi yang paling awal menancapkan pengaruhnya. Dalam waktu singkat, aliran ini sanggup menarik banyak pengikut, dan menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah.

Pada akhir abad ke-19, pengikut aliran sufi itu berjuang melawan Prancis serta Inggris. Akan tetapi, perlawanan berhenti ketika para pemimpinnya, antara lain Malick Sy dan Syekh Ahmed Bamba, memutuskan untuk berunding dengan Prancis dan diberikan imbalan hak kebebasan beragama.

Kemudian, Syekh Bamba diberikan izin untuk mengembangkan aktivitas di kawasan Peuls. Sejak itulah, aliran sufi tersebut terus meluaskan pengaruh dan kian dikenal oleh masyarakat Senegal serta Afrika Barat.

Banyak warga yang menjadikan tarekat ini sebagai pembimbing mereka dalam menyelesaikan masalah sehari-hari, semisal usai kehilangan pekerjaan atau tertimpa musibah. Syekh Bamba pun kerap mengingatkan pengikutnya untuk giat bekerja demi meningkatkan taraf kehidupan. Dia juga memberikan dorongan moral bagi yang terkena musibah.

Sedangkan aliran Tijaniyya berasal dari Afrika Utara dan telah berkembang pesat hingga Afrika Barat, khususnya Senegal, Mauritania, dan Mali. Pasca kemerdekaan tahun 1962, aliran Tijaniyya punya basis di Touba, yang bisa dibilang negara dalam negara.

Mengapa demikian? Tak lain karena wilayah ini tak memiliki gubernur serta administrasi pemerintahan. Kepemimpinan dipegang langsung oleh imam besar aliran tarekat sufi itu.

Tapi, secara keseluruhan, Senegal dipegang oleh pemerintahan yang sekuler, kendati mayoritas penduduknya beragama Islam. Peraturan perundangan menaungi semua golongan dan agama sehingga tercipta toleransi antaragama.

Sudah menjadi tradisi, misalnya, saat umat Islam merayakan hari besar agama, mereka mengundang tetangganya yang non-Muslim. Begitu pula, ketika umat Muslim dihina dengan gambar kartun Nabi Muhammad SAW oleh media Barat, umat non-Muslim di sana banyak yang turut mengecam tindakan itu.

*Wajah-Islam-Dunia*

Written by Hasyim

Juni 29, 2009 at 8:50 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Ditandai dengan

Printer Braille Untuk Tunanetra

without comments

Universitas Indonesia (UI) kini memiliki printer braille yang dapat digunakan mahasiswa penyandang tunanetra untuk mencetak hasil tulisannya di komputer. “Dengan adanya printer itu, calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan fisik, khususnya tunanetra tidak perlu minder atau takut untuk belajar di UI,” kata Kepala Pusat Kajian Disabilitas Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, Irwanto, di Depok, Jawa Barat, Jumat (26/6).

090627tekno-printer

Nilai investasi pengadaan printer braille itu mencapai Rp 90 juta. Sebelumnya UI telah memiliki komputer bicara dan scanner dengan perangkat lunak open book yang mampu menghasilkan scanning file bagi tunanetra. Dekan Fisip UI Bambang Shergi Laksmono berharap, isu tentang disabilitas tidak hanya diangkat oleh Fisip UI saja, melainkan juga diusung oleh satu unit kelembagaan yang lebih besar, yaitu Rektorat UI.

Sementara Sekretaris Rektorat UI Ketut Surajaya menjelaskan, kedepannya seluruh mahasiswa UI yang memiliki kemampuan terbatas dapat belajar di UI dengan nyaman. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan gedung UI yang secara perlahan menerapkan konsep rancangan universal.

Wakil Kepala Hubungan Masyarakat UI Devie Rahmawati mengatakan, saat ini ada 12 mahasiswa penyandang cacat  yang belajar di UI. Tiga di antaranya adalah mahasiswa tunanetra yang sedang menempuh studi Sastra Inggris, Ilmu Kesejahteraan Sosial, dan Ilmu Hukum.

tekno-printer

Written by Hasyim

Juni 27, 2009 at 3:38 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Ditandai dengan

Mencegah Gusi Berdarah

without comments

Gusi yang mudah berdarah adalah satu dari sederet tanda-tanda dari radang gusi (gingivitis). Gingivitis biasanya ditandai dengan gusi bengkak, warnanya merah terang, dan mudah berdarah akibat sentuhan ringan.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan gingivitis, di antaranya kebersihan mulut yang buruk, penumpukan karang gigi (kalkulus/tartar), dan efek samping dari obat-obatan tertentu yang diminum secara rutin. Sisa-sisa makanan yang tidak dibersihkan secara seksama, dapat menjadi tempat pertumbuhan bakteri.

Apa yang harus dilakukan untuk menjaga agar gusi selalu sehat?

* Sisa makanan yang melekat di sela-sela dan permukaan gigi harus dibersihkan dengan seksama.
* Sikat gigi harus dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat.
* Pilih bulu sikat yang halus dan ujung kepala sikat gigi yang kecil agar dapat menjangkau ke bagian gigi paling belakang.

*info-sehat

Written by Hasyim

Juni 25, 2009 at 6:18 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Ditandai dengan

Sosialisasi Simultan Untuk Asuransi Syariah

without comments

Dalam beberapa tahun terakhir industri keuangan syariah di Indonesia tumbuh pesat, termasuk di antaranya asuransi syariah. Perkembangannya yang cukup signifikan membuat sejumlah perusahaan asuransi konvensional membentuk unit syariah. Kini terdapat 38 perusahaan yang telah memiliki unit syariah, di mana tiga perusahaan di antaranya adalah perusahaan murni syariah. Di tahun ini industri asuransi syariah pun akan semakin ramai. Pasalnya diperkirakan tiga perusahaan asuransi akan membuka unit syariah di 2009.

Bagi Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) periode 2008-2011, Mohammad Shaifie Zein perkembangan asuransi syariah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan catatan cukup baik. ”Melihat peningkatan premi asuransi syariah lebih dari 100 persen di 2007 dibanding tahun sebelumnya adalah indikasi masyarakat sudah mulai mengetahui tentang asuransi syariah,” kata Shaifie.

Tercatat, premi di 2007 sebesar Rp 1,2 triliun dengan total asset Rp 1,9 triliun, sementara di 2006 tercatat premi sebesar Rp 497 miliar dengan asset Rp 917 miliar. Walau tahun ini diperkirakan pertumbuhan tak seperti tahun sebelumnya karena krisis ekonomi, namun diprediksi asset dapat mencapai sekitar Rp 2 triliun.

Meski demikian sosialisasi secara gencar terus dilakukan. Untuk mendorong asuransi syariah di Indonesia AASI menyiapkan sejumlah program. Di antaranya adalah melakukan seminar asuransi syariah bersama dengan Islamic Banking and Finance Institute Malaysia untuk lebih memperkenalkan industri asuransi syariah kepada masyarakat. ”Rencananya seminar akan dilakukan sebelum bulan Agustus,” kata Shaifie.

Menurut pria kelahiran Kalianget, 22 April 1969 ini sosialisasi perlu dilakukan secara kontinyu. Pasalnya, terdapat masyarakat yang hanya mendengar tentang asuransi syariah dan belum banyak mengetahui mengenai hal itu. ”Hal itu berarti asuransi syariah belum mengomunikasikan masalah asuransi syariah secara baik ke masyarakat, apa bedanya dengan asuransi konvensional,” kata Shaifie yang mendapatkan diploma asuransi di Caledonian University, Glasgow. Selain bekerja sama dengan IBFIM, AASI juga akan melakukan sosialisasi dengan Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAFI).

Dalam Festival Ekonomi Syariah beberapa waktu lalu, lanjut Shaifie, cukup membantu dalam sosialisasi asuransi syariah. ”Kami sangat berterima kasih atas adanya FES karena setidaknya ada improvement pemahaman mengenai asuransi syariah,” ujar Shaifie. Dengan sosialisasi yang terus dilakukan secara simultan, pria yang mendapat gelar profesi Chartered Insurer dari Chartered of Insurance Institute ini berharap akan lebih banyak masyarakat Indonesia yang memahami akan asuransi syariah.

Sementara, untuk meningkatkan kualitas industri asuransi syariah Indonesia, SDM menjadi perhatian khusus AASI. Di tahun ini asosiasi bekerja sama dengan Islamic Insurance Society dan International Center for Development in Islamic Finance (ICDIF) akan melakukan sertifikasi agen. Bagi Shaifie yang mengawali kariernya di dunia asuransi sejak 1995 di Asuransi Binagriya Upakara, sertifikasi perlu dilakukan agar agen benar-benar memahami produk asuransi syariah.

Selain itu Sekretaris Departemen Pengembangan Usaha Non-Bank Masyarakat Ekonomi Syariah ini juga menargetkan standarisasi polis bisa selesai di April tahun ini. ”Kami juga sudah minta waktu dengan Badan Arbitrase Syariah Nasional agar sengketa polis bisa diselesaikan di sana,” kata Shaifie. Sementara mengenai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) asuransi syariah diharapkan dapat selesai semester pertama tahun ini.

ASURANSI_SYARIAH_1430_HIJRIYAH

*************************************************************************************************************

Written by Hasyim

Juni 24, 2009 at 6:46 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Kebiasaan Mencuci Tangan

without comments

Kebiasaan mencuci tangan masyarakat Indonesia masih belum baik. Terlihat dari kebiasaan mencuci tangan dengan menggunakan semangkuk air atau kobokan untuk membasuh tangan sebelum makan. Padahal kebiasan sehat itu bisa menyelamatkan nyawa dengan mencegah penyakit.

Tangan yang terlihat bersih ternyata belum tentu steril. Dampaknya, hampir sama dengan tangan yang kotor bisa menjadi sumber beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada anak seperti diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Hasil penelitian badan kesehatan dunia (WHO) menunjukan sekitar 1,8 juta orang meninggal karena diare.

Pakar Kesehatan, dr Handrawan Nadesul mengatakan, kebiasaan cuci tangan dengan baik dapat mencegah masuknya sepuluh jenis penyakit diantaranya diare, kolera dan ISPA. “Untuk itu setiap orang perlu diintervensi agar hidup sehat dan mulailah dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir,” ungkap Hendrawan dalam diskusi kesehatan anak di Jakarta, Rabu (17/6).

Dia memaparkan, diare, ISPA dan penyakit penyebab kematian pada balita lainnya dapat dicegah dengan penyadaran hidup bersih bagi masyarakat. Peran ibu, dikatakan Hendrawan adalah modal besar dalam pembentukan perilaku hidup sehat, karena ibu yang terlibat langsung dalam menyediakan makanan, mengasuh anak dan penerapan perilaku sehat lainnya.

Menurut artikel dalam British Medical Journal, 51 penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukan cuci tangan lebih efektif dibanding obat dan vaksin untuk menghentikan flu.

Biaya Kesehatan

Hanya dengan modal sabun dan air mengalir biaya kesahatan setiap keluarga dapat ditekan hingga 44%. Hal itu menujukan intervensi cuci tangan menurunkan penyakit yang menyebabkan kematian pada anak lebih efektif dibanding cara lain. “Di Filipina dampak ekonomi perilaku cuci tangan dengan sabun dapat menekan biaya kesehatan sebesar 455 juta $ AS,” imbuh Handrawan.

Mencegah datangnya penyakit sejak awal tentunya akan mengurangi biaya tinggi untuk pengobatan. Sayang, perilaku cuci tangan dengan sabun kurang dipromosikan sebagai tindakan pencegahan.

Handrawan menyayangkan berbagai pihak lebih banyak fokus pada masalah kesehatan di hulu, yaitu bagaimana cara memberikan pengobatan gratis atau obat murah. Padahal menggiatkan promosi perilaku cuci tangan dengan sabun dapat menekan biaya kesehatan untuk membeli obat, perawatan rumah sakit dan keperluan lainnya ketika seseorang sakit. Selain itu, dengan mencuci tangan dengan sabun akan menurunkan angka izin anak sekolah dan berbagai dampak sosial yang ditimbulkannya.

Menjadi pribadi yang sehat adalah bagaimana seseorang berperilaku sehat. Perilaku sehat dapat dibentuk sejak kecil dengan komunikasi, informasi dan edukasi. Semua kalangan berperan untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat. Pemerintah berperan menganggarkan dana dan program untuk mencanangkan perilaku hidup bersih dan sehat, sementara itu pihak lain dapat membantu program pemerintah dalam melakukan komunikasi, informasi dan edukasi.

“Namun yang sangat berperan adalah keluarga, terutama ibu. Karena ibu ada dibelakang terciptanya

Generasi sehat”.

 

info-sehat

Written by Hasyim

Juni 23, 2009 at 5:09 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM