EDISI SPESIAL

BERITA LENGKAP

MIMBAR JUM’AT

with 3 comments

Written by Hasyim

Juli 11, 2008 pada 12:21 pm

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. LUASNYA NERAKA
    ( Sejenak kita renungi………..)

    Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Nabi saw
    pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya
    oleh nabi s.a.w.: “Mengapa aku melihat kau berubah muka?” Jawabnya: “Ya
    Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan
    penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahwa neraka
    Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar
    untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya.”

    Lalu nabi s.a.w. bersabda: “Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam.”
    Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu
    tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih,
    kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam
    nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka
    sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana
    panasnya.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu
    digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana
    panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu
    pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur’an itu diletakkan di atas
    bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

    Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di ujung barat
    tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur kerana sangat
    panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air
    panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada
    tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki
    dan perempuan.”

    Nabi s.a.w. bertanya: “Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?”
    Jawabnya: “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya,
    dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari
    yang lain 70 kali ganda.” (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas)

    Tanya Rasulullah s.a.w.: “Siapakah penduduk masing-masing pintu?” Jawab Jibril:
    “Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah
    diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir’aun sedang
    namanya Al-Hawiyah.
    Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
    Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar.
    Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
    Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
    Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.”

    Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: “Mengapa
    tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?” Jawabnya: “Di dalamnya
    orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat
    bertaubat.”

    Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril
    meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah
    sadar nabi saw bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat
    sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?”
    Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.”

    Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibril juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk
    ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali
    dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta
    kepada Allah.(dipetik dari kitab “Peringatan Bagi Yg Lalai”)

    Dari Hadits Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu
    tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahwa neraka
    jahanamKu itu:
    Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
    Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
    Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
    Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
    Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
    Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
    Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
    Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
    Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang
    hitam pekat.
    Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
    Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

    Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.

    Wallahua’lam.

    Hasyim Ibrahim

    Juli 11, 2008 at 1:03 pm

  2. FIR’AUN TEWAS DENGAN MULUT DISUMPALI OLEH MALAIKAT JIBRIL

    Dari Sa’id bin Jubeir dari Ibnu ‘Abbas radhiya’l-lahu ‘anhuma meriwayatkan: “dua orang Sahabat menghadap Rasulullah (menanyakan tentang Fir’aun). Sabda Nabi s.a.w: “Malaikat Jibril menyumpali mulut Fir’aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan: la ‘ilaha illa’l-lah” (Shahih, HR. Turmudzi [3107]; Ahmad [2145], at-Thabari [11/163]; Ibnu Hibban [6215]; Nasa’i [6/363]. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam as-Shahihah [2015] dan Shahih Sunan Turmudzi [2484]. Dishahihkan juga oleh Syeikh Syu’aib Arnouth, Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [14/98])

    Fir’aun mati dengan mulut menyon

    Hadits di atas umumnya dapat kita temui pada bahasan ayat tenggelamnya Fir’aun. Imam at-Thabari dan Imam Al-Qurthubi misalnya meletakkan hadits tersebut pada surah Yunus ayat 90, di mana Allah berfirman: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. 10:90) .

    Pada detik-detik naza‘nya, malaikat Jibril melihat gelagat Fir’aun akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Allah Ta’ala memerintahkan malaikat Jibril untuk mengeksekusi nyawa Fir’aun dengan cara menyumpal mulutnya dengan pasir, supaya tidak sampai mengucapkan keimanan dan pertaubatannya. Akhirnya Fir’aun mati dengan mulut menyon dan jauh dari rahmat Allah s.w.t.(Tafsir Al-Kasyaf, 21 202).

    Karena iman dan taubat pada saat ini, tiada guna sama sekali. Para Ulama mengatakan: “anna’l-iman bi’l-qalbi ka’imani’l-akhras“, iman sebatas bibir tak ubahnya seperti iman bisu. Iman dalam kondisi terpaksa atau dipaksa oleh suatu keadaan tertentu, bukan iman khalis (murni). Iman seperti ini, tidak direken oleh Allah. Mengutip Tafsir Syeikh Sa’di, ada dua keadaan di mana iman tidak berguna pada saat itu yakni beriman di ujung sakarat dan beriman menjelang hari Qiamat, sesuai firman Allah dalam surah Al-Mu’min:85.

    Termasuk keimanan yang terpaksa atau dipaksa adalah masuk Islam karena mau nikah, mau terima warisan, karena tujuan politik atau duniawi lainnya, seperti banyak menggejala akhir-akhir ini. Iman Nabi Yunus boleh jadi contoh, beliau ingat Allah di semua keadaan, dalam senang maupun di waktu susah. Sementara iman Fir’aun adalah iman kejepit. Allah melukiskan iman Nabi Yunus melalui ayat: “Maka jika sekiranya dia (Nabi Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Qs.As-Shaffatf 143-144)

    Fir’aun wafat di Laut Merah atau laut Qalzum atau sebelumnya populer dengan nama FAM AL-HAIRUTS, dekat terusan Suez, pada tanggal 10 Muharram dan karena itulah ada syari’at shaum ‘Asyura, setelah sebelumnya menyatakan taubat dan yakin akan Tuhan Allah s.w.t. Dan inilah taubat ghayru maqbui yakni taubat tertolak (Qs. 10:90)

    Dalam hadits Bukhari-Muslim dan Abu Qatadah dapat kita simpulkan bahwa, kematian Fir’aun disyukuri oleh ummat manusia, dan inilah kematian orang yang diistirahatkan (mustarah). Bagi Bani Isra’il kematian Fir’aun adalah hari kemerdekaan, di mana puasa Asyura adalah wujud peringatan mensyukuri kematian Fir’aun, setiap tahun. Karena itu wahai para pemimpin, jauhilah prilaku Fir’aun

    Fir’aun kafir sejak orok

    Di antara perkara yang aneh dalam din Fir’aun adalah fithrah kejadiannya. Umum-nya bayi diciptakan oleh Allah dalam keadaan fithrah, kudu mawludin yuwladu ‘ala’i fithrah, tapi tampaknya hadits ini dikecualikan terhadap bayi Fir’aun. Karena sejak orok sudah kafir di dalam perut ibunya. Syeikh Albani dalam Shahihul Jami’ no.:3237 menghasankan bunyi hadits “wa khalaqa fir’aun fi bathni ummihi kafiran,” dan Fir’aun dijadikan (oleh Allah) dalam perut ibunya dalam keadaan kafir. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil dan Imam Thabarani dalam Al-Ausath). Abu Sa’id Al-Khudri radhiya’l-lahu ‘anh menceritakan, saat menyampaikan hadits ini Rasulullah s.aw sedang berkhutbah di hadapan kami pada sore hari. Nabi s.a.w bersabda: “yuwladu’n-nass ‘ata thabaqatin syatta, manusia dilahirkan berdasarkan tingkatannya sendiri-sendiri.” Ada yang lahir mu’min, hidup mu’min dan mati dalam keadaan mu’min. Ada yang lahir kafir, hidup kafir dan mati pun kafir. Ada yang lahir mu’min, hidup mu’min dan mati kafir, serta ada yang lahir kafir, hidup kafir, tapi matinya dalam keadaan mu’min. Berkata Ibnu Mas’ud radhiya’l-lahu ‘anh, pada kesempatan inilah hadits di atas disabdakan oleh Rasulullah s.a.w, “khalaqa’l-lahu yahya bin zakariya fi bathni ummihi mu’minan wa khalaqa fir’aun fi bathni ummihi kafiran.” (Tafsir Qurthubi, surah at-Tagha-bun:2. As-
    Shahihah Syeikh Albani [4/446] no.: 1831, dan sesuai dengan bunyi hadits ‘Aisyah dalam Shahih Muslim [8/54-55] no.2662).

    Bisa kita simpulkan, bahwa Fir’aun terlahir untuk menjadi dajjal. Karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (w.751 H) memasukkan Fir’aun dalam deretan tokoh dajjajilah sepanjang sejarah mewakili simbol penguasa dzalim (kitab al-Fawa’id,hal:90). Ada dajjal sifat yang selalu ada di panggung sejarah meramaikan jagad zaman, dan pada saatnya nanti -’ala qadarillah- akan muncul dajjal kubra yang menghiasi fenomena fitnah akhir zaman dan menjadi tanda tibanya hari Qiamat. Sama dengan Fir’aun, Dajjal akhir zaman, juga kafir. Tanda kekafiran itu, jelas terbaca oleh orang mu’min di jidatnya. Apa mungkin dia anak cucu Fir’aun, sejarahlah yang akan menjawabnya, yang jelas bapak-ibunya adalah orang Yahudi, dan watak aslinya adalah suka melakukan penjungkir-balikan fakta atas nama banyak kepentingan. (Fathul Bari’, 2/318).

    Fir’aun, Gelar Raja Durhaka

    Ahli sejarah terpecah dua; ada yang bilang Fir’aun itu nama orang (ismul ‘ajam), yang lain dan terbanyak mengatakan Fir’aun itu gelar bagi raja yang lupa daratan. Tapi yang jelas, nama ini pertama kali dipakai oleh Walid bin Mush’ab bin Rayyan, keturunan Lois bin Sam bin Nuh. (Fajrul ‘Urus [1/8131]).

    Fir’aun Musa adalah Ramses II atau Ramses Akbar, yaitu dinasti yang ke-19 yang naik tahta pada 1311 SM. Ada yang mengatakan bahwa, Fir’aun ini juga bernama Maneftah (1224-1214 SM) yang Allah binasakan bersama 700.000 pasukannya di Laut Merah, mayatnya Allah selamatkan, pada waktu syuruq (matahari terbit), menurut Tafsir Muqatil (Qs. 10:90). Mayatnya diawetkan dengan pembalseman dalam bentuk mumi yang kini disimpan di museum Mesir di Kairo dengan berbagai macam hikmah sejarah. Mumi ini ditemukan pertama kali oleh purba-kalawan Perancis, Loret, di Wadi al-Muluk (lembah raja-raja) Thaba Luxor Mesir pada tahun 1896 M. Pembalutnya dibuka oleh Eliot Smith, seorang purbakalawan Inggris pada tanggal 8 Juli 1907.

    Demikianlah, setiap negara atau kepercayaan, punya gelar tersendiri. Sejauh tidak melampaui koridor wahyu dan amanah kekuasaan, gelar ini sah-sah saja untuk menun-jukan prestasi atau mendorong semangat juang. Sejarah kekuasaan mela-porkan, bahwa para penguasa memang doyan dengan gelar. Terlebih lagi jika gelar ini disematkan langsung oleh rakyat, disebut-sebut dalam forum terbuka, diperhelatan atau di balai-balai pertemuan. Bahkan ada gelar pemimpin yang sampai pada taraf kultus atau ghuluw. Para pemimpin dan tokoh ini merasa senang jika gelar kebesaran atau kehormatan itu disebut-sebut dalam untaian do’a dengan penghormatan yang sangat berlebihan.

    Tetapi mereka lupa, ketika gelar mengarah pada kultus pada saat inilah gelar bisa makan tuan. Gelar menyeret pemiliknya pada kesombongan, sehingga bisa lupa daratan. Fitnah ghuluw (kultus, fanatik) muncul dari pemujaan gelar yang kelewat batas.

    Perhatikanlah pesan indah dari Imam as-Syafi’i rahimahullah berikut ini: Berkata Imam as-Syafi’i: “aku benci orang yang kelewat mengagungkan makhluk, hingga menjadikan kuburannya (di.sebagai) masjid. Aku kuatirterjadi fitnah atasnya dan fitnah atas orang sesudahnya.” (Imam An-Nawawi, AI-Majmu’ [5/269]; Al-Umm Imam As-Syafi’i [1/92-93)

    Wassalam…
    Copy by : Hasyemi

    Hasyim Ibrahim

    Juli 18, 2008 at 12:22 pm

  3. KEAJAIBAN TUMBUHAN

    Seorang mukmin berjalan disebuah taman. Ia terpesona dengan keindahan sebuah taman. Ia terpesona dengan keindahan taman yang merupakan kenikmatan Allah. Sesungguhnya bagi yang sudi merenung, pada setiap benda hidup terdapat kebesaran-Nya.

    Sebagai contoh, tanaman merambat yang melingkarkan tubuhnya mengelilingi sebuah dahan atau benda lain, merupakan fenomena yang perlu dipikirkan secara seksama. Jika pertumbuhan tanaman ini direkam dan dipertunjukkan ulang dengan cepat, akan terlihat bahwa tanaman merambat ini bergerak seolah-olah ia adalah mahluk yang memiliki kesadaran. Ia seolah-olah melihat tepat dihadapannya, lalu ia mengulurkan dirinya kearah dahan tersebut dan mengikatkan diri ke dahan seperti tali lasso.

    Seorang mukmin yang menyaksikan semua ini kembali sadar bahwa Allah telah menciptakan semua benda hidup dan bahwa Dia menciptakannya sebagai sistem yang unik dan tanpa cacat.

    Ketika seseorang terus mengamati gerakan-gerakan tanaman ini, ia menemukan satu ciri menarik lain dari tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa batang tanaman merambat tersebut dengan kuat melekatkan dirinya diatas permukaan dimana ia berada dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya. Begitulah ketika menyusuri taman, seseorang yang memiliki keimanan akan berpikir bagaiman bunga seperti mawar, violet, daisy, hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga lainnya.

    Satu keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang menakjubkan dari bunga. Penelitian di laboratorium-laboratorium untuk mendatangkan wangi bunga asli belum berhasil. Aroma parfum yang di produksi dengan meniru bau mawar pada umumnya memiliki bau harum sedemikian kuat sehingga mengganggu orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar tidak menimbulkan gangguan apapun bagi manusia.

    Orang yang beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan Allah agar ia memuji-Nya. Sadar akan hal ini, seseorang yang menyaksikan keindahan kebun atau taman bunga ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan Allah seraya mengatakan,
    ” Maa syaa Allahu, laa quwatta illaa billaah (sungguh atas kehendak Alllah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)”. (QS. Al-Kahfi, 18:39).

    Dipost oleh : Hasyim Ibrahim (Kota Legenda – 2008)

    Hasyim Ibrahim

    Juli 25, 2008 at 6:47 am


Tinggalkan Balasan