Rumah : Jl. Nusantara No.33 Rt 01 / Rw 01 Pu’urere
Kelurahan Rukun Lima – Ende Flores NTT 18631
Telepon : (0381) – 21254
Email : hasyimibrahim@rocketmail.com
Web : hasyimibrahim.wordpress.com
Bumi Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbukit-bukit ternyata menyimpan keindahan luar biasa. Di puncak Gunung Kelimutu di kawasan Taman Nasional Kelimutu terdapat Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna.
Danau yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu dari sembilan keajaiban dunia. Daerah ini pertama kali ditemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda pada tahun 1915.
Kawasan wisata Danau Kelimutu terletak sekitar 51 kilometer dari Kota Ende. Untuk mencapai Kota Ende, saya harus naik pesawat terbang. Kebetulan Kamis (30/6) siang ada penerbangan Pelita Air Service dengan nomor penerbangan GD-931. Saya dapat kabar penerbangan ini adalah penerbangan terakhir Pelita Air Service ke Ende. Setelah itu jalur Kupang – Ende dengan Pelita Air Service tinggal kenangan. Yang tersisa hanya pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA).
Perjalanan dengan pesawat terbang ke Ende memakan waktu hampir satu jam lebih. Jelang petang pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Abdoellah Aboeroesman, Ende. Saya pun bergegas menuju Kampung Moni, Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, sekitar 13 kilometer kawasan wisata Danau Kelimutu. Perjalanan mobil ditempuh hampir dua jam lebih dari Bandara Abdoellah Aboeroesman, Ende ke tempat sebuah penginapan sederhana di Kampung Moni. Jalan berliku serta udara sejuk menjadi teman perjalanan yang mengasyikan.
Danau Kelimutu juga dapat dicapai dari Kabupaten Sikka. Jarak dari Ende ke Kelimuti sekutar 51 kilometer, sebaliknya dari Maumere ke Kelimutu sekitar 116 kilometer. Saya sempat mampir sebentar ke bekas rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende sebelum menuju Kampung Moni.
Dari rumah pengasingan Bung Karno itulah, saya menuju penginapan yang sederhana di Kampung Moni. Dingin segera menyergap tubuh ini. Pakaian penghangat tubuh pun harus dilekatkan erat-erat. Tak lupa saleyer mengikat leher ini. Karena kabut telah turun dan suasana menjadi gelap. Secara kebetulan aliran listrik di penginapan sederhana itu sedang mati karena terkena giliran pemadaman listrik, terpaksa mengunjungi Danau Kelimutu pun dilakukan esok harinya.
“Kita harus berangkat pukul 4 subuh agar tidak kehilangan momen untuk melihat Danau Tiga Warga Kelimutu. Sebab, lepas pukul 07.00 pagi kabut segera turun dan tiga warna di Danau Kelimutu pun tenggelam ditelan kabut,” tutur Kepala Perwakilan PT Jasa Raharja Ende, TB Silalahi yang ikut menemani perjalanan ke Danau Kelimutu. Karena aliran listrik PLN mati, malam di penginapan sederhana itu hanya ditemani kegelapan serta lampu lilin yang kadang mati diterpa angin malam. Seiring dengan itu rasa kantuk pun menyerang dan saya pun tertidur pulas.
Subuh pagi sekitar pukul 04.00, saya pun siap-siap menuju Danau Kelimutu. Perjalanan dari tempat penginapan hanya memakan waktu kurang dari setengah jam. Saya harus membayar Rp 1.000 di pintu masuk menuju kawasan Danau Kelimutu. Begitu juga dengan mobil yang masuk. Mobil hanya parkir di bawah kaki Gunung Kelimutu yang memiliki tinggi 1.640 meter di atas permukaan laut (dapl). Untuk melihat Danau Tiga Warna itu, saya serta sejumlah rekan terpaksa menapaki sedikitnya 262 anak tangga. Hawa sejuk di sekitar tangga itu berkisar antara 15 hingga 21 derajat Celcius. Perjalanan menuju Danau Kelimuti diiringi dengan suara burung yang sedap di telinga serta hamparan tumbuhan seperti cemara gunung, kayu merah, edelweis, landak, babi hutan, tikus besar serta burung gerugiwa.
Pemandangan di Danau Kelimutu sungguh memesona. Dari kejauhan, kabut putih tebal tampak bergerak perlahan menutupi puncak Kelimutu. Namun, saya beruntung dapat melihat langsung Danau Tiga Warna tersebut. Kadang berwarna merah, tiba-tiba berubah menjadi hijau tua kemudian merah hati. Kadang menjadi warna cokelat kehitaman dan biru. Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding itu juga sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.
Gunung Kelimutu meletus terakhir pada tahun 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiwu ata polo), biru (tiwu ko’o fai nuwa muri) dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna itu mulai berubah sejak tahun 1969 saat meletusnya Gunung Iya di Ende.
Kawasan Kelimuti telah ditetapkan sebagai taman nasional sejak 26 Februari 1992. Kawasan ini memiliki luas 5.356,5 hektare yang meliputi tiga kecamatan yakni Detusoko, Wolowaru dan Ndona, Kabupaten Ende.
Untuk melihat Danau Tiga Warna itu, saya harus naik hingga ke puncak. Dari puncak gunung itulah saya dapat melihat ketiga danau berwarna
tersebut. Di puncak gunung tersebut beberapa warga penduduk asli setempat menjual kain tenun, selayar serta kopi dan teh manis hangat. Cukup dengan uang Rp 3.000, saya dapat meneguk kopi panas untuk menghangatkan tubuh.
Tidak jauh dari puncuk gunung tersebut saya melihat sebuah tugu bertuliskan, “Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi”. Tugu ini menceritakan kepercayaan masyarakat setempat bahwa jiwa dan arwah akan datang di Kelimutu. Ketika seseorang meninggal maka jiwanya atau “mae” meninggalkan kampung dan datang bersemayan ke Kelimutu untuk selama-lamanya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air warna merah merupakan tempat berkumpulnya para arwah dari berbagai belahan bumi.
Danau dengan air merah adalah tempat berkumpulnya arwah orang jahat, sedangkan danau air biru untuk para pemuda-pemudi dan danau air putih untuk arwah orangtua.”Para arwah akan bermukim di ketiga danau itu sesuai dengan status sosialnya,” kata Hernandes, penjual kopi panas di puncak Gunung Kelimutu.Masyarakat Kampung Jopu di Kabupaten Ende sangat menghormati Danau Tiga Warga Kelimutu sebagai tempat tinggal arwah nenek moyang. Mereka percaya bila meninggal, kelak arwah mereka pun akan pergi ke salah satu danau di Kelimutu.
Waktu kunjungan terbaik ke Danau Kelimuti adalah pada Juli sampai September karena pada bulan-bulan tersebut, puncak kawah cerah pada pagi hari. Sayang, kunjungan saya ke Danau Tiga Warna itu segera berakhir karena kabut mulai turun dan warna-warna putih kabut menutupi Danau Tiga Warna tersebut. Saya pun bergegas turun dan kembali menapaki 262 anak tangga. Sayang jika keajaiban di Danau Kelimutu itu sampai terlupakan. Semoga tidak!
(cerita wartawan sinar harapan)
Kelurahan Rukun Lima adalah salah satu kelurahan di Ende Flores NTT yang memiliki masjid terbanyak yaitu terdapat 4 masjid. Dibandingkan dengan kelurahan lain yang paling maksimal hanya 3 masjid. Dan ini adalah hal yang sangat membanggakan bagi kaum muslimin di tengah-tengah moyoritas penganut agama kristen. Tinggal bagaimana kaum muslim dikelurahan rukun lima dapat terus meningkatkan ibadah dan menjalin ukhuwah yang baik dengan sesama muslim dan juga dengan kaum non muslim agar dapat tercipta kerukunan umat beragama maupun kesejahteraan hidup dapat ditingkatkan.
Senang sekali ada yang bercerita tentang Ende. Semoga tulisannya tidak berhenti sampai disini ya.., O ya bersyukur sekali kalau bisa memberitahu saya gimana caranya posting attikel disini.makasih
Memori terindah sewaktu kecil di kelurahan Rukun Lima – Ende
hasyimibrahim
Juli 9, 2008 at 4:45 pm
Rumah : Jl. Nusantara No.33 Rt 01 / Rw 01 Pu’urere
Kelurahan Rukun Lima – Ende Flores NTT 18631
Telepon : (0381) – 21254
Email : hasyimibrahim@rocketmail.com
Web : hasyimibrahim.wordpress.com
Hasyim Ibrahim
Juli 10, 2008 at 3:52 pm
DANAU KELIMUTU – ENDE
Bumi Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbukit-bukit ternyata menyimpan keindahan luar biasa. Di puncak Gunung Kelimutu di kawasan Taman Nasional Kelimutu terdapat Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna.
Danau yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu dari sembilan keajaiban dunia. Daerah ini pertama kali ditemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda pada tahun 1915.
Kawasan wisata Danau Kelimutu terletak sekitar 51 kilometer dari Kota Ende. Untuk mencapai Kota Ende, saya harus naik pesawat terbang. Kebetulan Kamis (30/6) siang ada penerbangan Pelita Air Service dengan nomor penerbangan GD-931. Saya dapat kabar penerbangan ini adalah penerbangan terakhir Pelita Air Service ke Ende. Setelah itu jalur Kupang – Ende dengan Pelita Air Service tinggal kenangan. Yang tersisa hanya pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA).
Perjalanan dengan pesawat terbang ke Ende memakan waktu hampir satu jam lebih. Jelang petang pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Abdoellah Aboeroesman, Ende. Saya pun bergegas menuju Kampung Moni, Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, sekitar 13 kilometer kawasan wisata Danau Kelimutu. Perjalanan mobil ditempuh hampir dua jam lebih dari Bandara Abdoellah Aboeroesman, Ende ke tempat sebuah penginapan sederhana di Kampung Moni. Jalan berliku serta udara sejuk menjadi teman perjalanan yang mengasyikan.
Danau Kelimutu juga dapat dicapai dari Kabupaten Sikka. Jarak dari Ende ke Kelimuti sekutar 51 kilometer, sebaliknya dari Maumere ke Kelimutu sekitar 116 kilometer. Saya sempat mampir sebentar ke bekas rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende sebelum menuju Kampung Moni.
Dari rumah pengasingan Bung Karno itulah, saya menuju penginapan yang sederhana di Kampung Moni. Dingin segera menyergap tubuh ini. Pakaian penghangat tubuh pun harus dilekatkan erat-erat. Tak lupa saleyer mengikat leher ini. Karena kabut telah turun dan suasana menjadi gelap. Secara kebetulan aliran listrik di penginapan sederhana itu sedang mati karena terkena giliran pemadaman listrik, terpaksa mengunjungi Danau Kelimutu pun dilakukan esok harinya.
“Kita harus berangkat pukul 4 subuh agar tidak kehilangan momen untuk melihat Danau Tiga Warga Kelimutu. Sebab, lepas pukul 07.00 pagi kabut segera turun dan tiga warna di Danau Kelimutu pun tenggelam ditelan kabut,” tutur Kepala Perwakilan PT Jasa Raharja Ende, TB Silalahi yang ikut menemani perjalanan ke Danau Kelimutu. Karena aliran listrik PLN mati, malam di penginapan sederhana itu hanya ditemani kegelapan serta lampu lilin yang kadang mati diterpa angin malam. Seiring dengan itu rasa kantuk pun menyerang dan saya pun tertidur pulas.
Subuh pagi sekitar pukul 04.00, saya pun siap-siap menuju Danau Kelimutu. Perjalanan dari tempat penginapan hanya memakan waktu kurang dari setengah jam. Saya harus membayar Rp 1.000 di pintu masuk menuju kawasan Danau Kelimutu. Begitu juga dengan mobil yang masuk. Mobil hanya parkir di bawah kaki Gunung Kelimutu yang memiliki tinggi 1.640 meter di atas permukaan laut (dapl). Untuk melihat Danau Tiga Warna itu, saya serta sejumlah rekan terpaksa menapaki sedikitnya 262 anak tangga. Hawa sejuk di sekitar tangga itu berkisar antara 15 hingga 21 derajat Celcius. Perjalanan menuju Danau Kelimuti diiringi dengan suara burung yang sedap di telinga serta hamparan tumbuhan seperti cemara gunung, kayu merah, edelweis, landak, babi hutan, tikus besar serta burung gerugiwa.
Pemandangan di Danau Kelimutu sungguh memesona. Dari kejauhan, kabut putih tebal tampak bergerak perlahan menutupi puncak Kelimutu. Namun, saya beruntung dapat melihat langsung Danau Tiga Warna tersebut. Kadang berwarna merah, tiba-tiba berubah menjadi hijau tua kemudian merah hati. Kadang menjadi warna cokelat kehitaman dan biru. Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding itu juga sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.
Gunung Kelimutu meletus terakhir pada tahun 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiwu ata polo), biru (tiwu ko’o fai nuwa muri) dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna itu mulai berubah sejak tahun 1969 saat meletusnya Gunung Iya di Ende.
Kawasan Kelimuti telah ditetapkan sebagai taman nasional sejak 26 Februari 1992. Kawasan ini memiliki luas 5.356,5 hektare yang meliputi tiga kecamatan yakni Detusoko, Wolowaru dan Ndona, Kabupaten Ende.
Untuk melihat Danau Tiga Warna itu, saya harus naik hingga ke puncak. Dari puncak gunung itulah saya dapat melihat ketiga danau berwarna
tersebut. Di puncak gunung tersebut beberapa warga penduduk asli setempat menjual kain tenun, selayar serta kopi dan teh manis hangat. Cukup dengan uang Rp 3.000, saya dapat meneguk kopi panas untuk menghangatkan tubuh.
Tidak jauh dari puncuk gunung tersebut saya melihat sebuah tugu bertuliskan, “Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi”. Tugu ini menceritakan kepercayaan masyarakat setempat bahwa jiwa dan arwah akan datang di Kelimutu. Ketika seseorang meninggal maka jiwanya atau “mae” meninggalkan kampung dan datang bersemayan ke Kelimutu untuk selama-lamanya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air warna merah merupakan tempat berkumpulnya para arwah dari berbagai belahan bumi.
Danau dengan air merah adalah tempat berkumpulnya arwah orang jahat, sedangkan danau air biru untuk para pemuda-pemudi dan danau air putih untuk arwah orangtua.”Para arwah akan bermukim di ketiga danau itu sesuai dengan status sosialnya,” kata Hernandes, penjual kopi panas di puncak Gunung Kelimutu.Masyarakat Kampung Jopu di Kabupaten Ende sangat menghormati Danau Tiga Warga Kelimutu sebagai tempat tinggal arwah nenek moyang. Mereka percaya bila meninggal, kelak arwah mereka pun akan pergi ke salah satu danau di Kelimutu.
Waktu kunjungan terbaik ke Danau Kelimuti adalah pada Juli sampai September karena pada bulan-bulan tersebut, puncak kawah cerah pada pagi hari. Sayang, kunjungan saya ke Danau Tiga Warna itu segera berakhir karena kabut mulai turun dan warna-warna putih kabut menutupi Danau Tiga Warna tersebut. Saya pun bergegas turun dan kembali menapaki 262 anak tangga. Sayang jika keajaiban di Danau Kelimutu itu sampai terlupakan. Semoga tidak!
(cerita wartawan sinar harapan)
Ditulis ulang oleh : acim (kelimutu tour – 1989)
Hasyim Ibrahim
Juli 14, 2008 at 1:25 pm
JUMLAH MASJID DI KELURAHAN RUKUN LIMA
Kelurahan Rukun Lima adalah salah satu kelurahan di Ende Flores NTT yang memiliki masjid terbanyak yaitu terdapat 4 masjid. Dibandingkan dengan kelurahan lain yang paling maksimal hanya 3 masjid. Dan ini adalah hal yang sangat membanggakan bagi kaum muslimin di tengah-tengah moyoritas penganut agama kristen. Tinggal bagaimana kaum muslim dikelurahan rukun lima dapat terus meningkatkan ibadah dan menjalin ukhuwah yang baik dengan sesama muslim dan juga dengan kaum non muslim agar dapat tercipta kerukunan umat beragama maupun kesejahteraan hidup dapat ditingkatkan.
Wrote by : Acim (Pu’urere – Ende 1975)
Hasyim Ibrahim
Juli 15, 2008 at 5:38 pm
DESAKU…..
DESAKU YANG TERCINTA
PUJAAN HATIKU
TEMPAT AYAH DAN BUNDA
DAN HANDAI TAULANKU..
TAK MUDAH KULUPAKAN
TAK MUDAH BERCERAI
SELALU KURINDUKAN
DESAKU YANG PERMAI..
(by : Ende Boy’s)
DESAKU YANG TERCINTA
Januari 30, 2009 at 3:04 pm
Senang sekali ada yang bercerita tentang Ende. Semoga tulisannya tidak berhenti sampai disini ya.., O ya bersyukur sekali kalau bisa memberitahu saya gimana caranya posting attikel disini.makasih
Amalia R
Oktober 9, 2009 at 2:11 pm