EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Ende – Kota Bersejarah

with 3 comments

Jakarta, 31 Juli 2008

KOTA ENDE

Tempat Pembuangan Presiden Bung Karno

Pertama, Kota Ende merupakan tempat yang sangat bersejarah, karena Bung Karno pernah dibuang di kota ini. Saya sempatkan melihat rumah tempat pembuangan Bung Karno ini, karena hotel tempat menginap saya, Hotel Dwiputra, kebetulan hanya berjarak lima ratusan meter saja. Sehabis shalat subuh, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di Kota Ende. Jika sebagian besar penduduk Maumere beragama Katolik, masyarakat Kota Ende ternyata beragama Islam. Bahkan, nama bandara di Kota Ende adalah nama seorang raja beragama Islam yang pernah menjadi bupati pertamanya, yakni Haji Hasan Aroeboesman. Istana kerajaan Ende ini sekarang menjadi rumah yang dihuni oleh keturunan raja. Pagar kawasan rumah ini kelihatan berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya, karena memang telah dibangun khusus oleh Pemerintah Daerah. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang cucu Haji Hasan Aroeboesman. Namanya Firdaus, seorang pegawai Pemda Kabupaten Ende. Keberadaan Masjid di sebelah Barat ”istana” Kerajaan Ende ini merupakan masjid tertua di Kota Ende yang dibangun pada abad ke-16. Beberapa masjid banyak terdapat di Kota Ende. Konon, tanah untuk gereja yang besar di Kota Ende juga atas jasa baik Raja Haji Hasan Aroeboesman.

Kedua, Nama Soekarno memang memiliki kesan tersendiri bagi rakyat Ende. Pohon sukun yang ditanam ketika Bung Karno berada di Ende memang telah lama mati, tetapi sampai saat ini pohon yang satu ini terus ditanam kembali. Di bawah pohon sukun ini Bung Karno dipercayai selalu merenung dan kemudian menuliskan tentang nilai-nilai luhur Pancasila, yang kini menjadi dasar negara. Ketika berada di Kota Ende, Bung Karno juga sering mengunjungi sekolah. Frans Seda adalah seorang siswa Sekolah Rakyat yang bernyanyi ketika Bung Karno berkunjung ke salah satu sekolah itu.

Bahasa Daerah

Di Kabuaten Ende ini ternyata ada dua bahasa daerah, yakni Bahasa Ende dan Bahasa Lio. Bahasa Ende kebanyakan dipakai oleh penduduk Kota Ende, sedang Bahasa Lio banyak digunakan oleh daerah kawasan sebelah utara Kota Ende, termasuk penduduk yang banyak tinggal di gunung-gunung di sekitar Kota Ende. Jao ata Ende. Artinya, saya orang Ende. Itulah salah patah kata yang sempat saya ingat. Sungguh, perjalanan dari Maumere terus ke Kota Ende telah memberi kesan yang mendalam bagi saya. Lebih dari itu, acara kegiatan pertemuan dengan kepala sekolah, guru, pengawas, dan Komite Sekolah selama bertugas di Maumere dan Ende telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa negeri kita ini adalah negeri yang kaya dan indah. Untuk memajukan negeri yang kaya dan indah itu, harus dibangun melalui pendidikan yang berkualitas. Mudah-mudahan. Amin…

Wassalaam…

Di ringkas ulang oleh : Hasyim – Juli 2008 <Email : hasyimibrahim@rocketmail.com>

Sumber: http://www.suparlan.com

Written by Hasyim

Juli 31, 2008 pada 8:32 am

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. yang menaik apa arti tulisan”Gereja Besar” yg saat ini menjadi kembanggaan umat kristen katolik ende, merupakan tanah raja hasan?

    junaidin basri

    September 2, 2010 at 3:41 pm

  2. waaah anda berbicang2 denagn sodara saya, ahahah.dunia ini memang kecil

    shabrinho

    November 18, 2010 at 8:35 pm

  3. Bupati ende pertama Bpk Mauritz G Winokan. Pelajari sejarah dahulu.

    marieta

    Februari 11, 2014 at 7:35 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: