EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Sungai Ciliwung – Nasibmu Kini…

with one comment

Dari tahun ke tahun, banjir besar selalu menimpa Jakarta. Sejarah banjir ini seolah tidak terpisahkan dari catatan sejarah Kota Jakarta itu sendiri. Korban jiwa serta harta tak terhindarkan. Peristiwa banjir besar ini selalu  memiliki pola waktu yang sama setiap tahunnya yaitu Januari hingga Februari. Upaya penanggulangan sudah dilakukan namun tidak bisa merubah nasib Jakarta yang tak terpisahkan dari luapan banjir.

Sejumlah sungai yang melintas di wilayah Jakarta saat ini kotor dan berubah menjadi tong sampah raksasa. Sungai Ciliwung yang melintasi kawasan Kota Tua Jakarta dahulu kala saat masih bernama Batavia bersih dan bisa dilayari kapal besar. Bahkan para awak kapal saat singgah kerap mengambil air sungai mengisi guci guci dan botol untuk persedian minum ketika berlayar kembali. Kini, warna air hitam dan pekat sangat tidak nikmat walau hanya untuk memandang.

Sampah yang luar biasa banyaknya baik organik atau anorganik. Belum lagi di pinggiran sungai banyak sekali sampah menggunung di belakang rumah warga atau menggantung di pohon. Sungai-sungai di Jakarta memang sudah dianggap sebagai tempat pembuangan sampah paling murah. Tanpa peduli dampaknya pembuangan sampah terus terjadi. Kondisi alur Sungai Ciliwung sudah sangat memprihatinkan sejak dari hulu.

Di kawasan hulu terjadi pendangkalan dan penyempitan sungai akibat maraknya pendirian bangunan. Lahan yang semula hijau penuh dengan pepohonan yang berfungsi sebagai resapan air kini tampak berubah menjadi bangunan beton. Perubahan penggunaan lahan yang sangat besar itu menyebabkan air hujan tidak terserap oleh tanah tetapi masuk ke sungai dalam jumlah besar air dari hulu akan menyebabkan banjir di hilir.

Penanganan banjir di Jakarta sudah dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Pada waktu itu Profesor Doktor Van Breen ditugaskan mengendalikan aliran sungai ke Batavia. Untuk itu Van Breen membangun pintu air Manggarai, Jakarta Selatan sebagai pengendali volume air yang mengalir ke kota. Satu lagi pintu air peninggalan pemerintah Belanda adalah Katulampa. Bendungan ini menjadi penting sebagai acuan kondisi genangan air di Jakarta dan wilayah dataran rendah di Bogor. Saksikan selengkapnya dalam video Potret edisi 15 November 2008.

copyright@hasyim/1429h

Written by Hasyim

November 16, 2008 pada 5:38 am

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kenapa sungai ciliwung menjadi seperti itu?

    bonds

    Februari 9, 2009 at 9:11 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: