EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Ulama Intelektual Profesional

leave a comment »

Obsesi lama kalangan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang pernah dihembuskan oleh Prof Mukti Ali awal tahun 70-an untuk mencetak ulama intelektual dan intelektual ulama nampaknya tak begitu mendapat respon yang cukup signifikan di kalangan PTAI itu sendiri. Hal itu diakui oleh banyak pengelola dan alumni PTAI, bahkan saking bersemangatnya lembaga tersebut telah membuahkan intelektual yang justru sekular. Di sisi lain, dalam realitasnya banyaknya sarjana agama lulusan perguruan tinggi ini tidak membawa korelasi perubahan sosial yang damai dan menyejukkan sebagaimana cita-cita awal keberagamaan, alih-alih malah ketegangan dan kekerasan sosial yang ditandai dengan tawuran pelajar dan terjadinya demoralisasi dalam berbagai aspek kehidupan semakin menjadi-jadi hingga belakangan ini.

Kegelisahan inilah yang nampaknya direspon oleh Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Malang sebagaimana diakui oleh ketuanya, Prof Dr Imam Suprayogo dengan mengadakan perubahan radikal kurikulum. Secara jujur diakui Imam, kurikulum yang ada di kalangan PTAI sekarang ini ternyata tak mampu menjawab pembentukan SDM seperti yang diangan-angankan Mukti Ali, mantan Menteri Agama itu. Bahkan tantangan yang dihadapi PTAI kini semakin kompleks, yaitu bagaimana membentuk ulama intelektual profesional dan intelektual profesional yang ulama, yang menjadi tuntutan masyarakat.

”Inilah tantangan kalangan Perguruan Tinggi Islam sekarang dan ke depan,” ujar Imam kepada Republika. Untuk itulah, mau tak mau atau suka tak suka kalangan PTAI harus merespon tuntutan masyarakat ini, karena pada hakikatnya keberadaan lembaga pendidikan adalah untuk menjawab problem kemasyarakatan dan kehidupan.

Harus diakui , lanjutnya, kelemahan terbesar dari manajemen pendidikan yang ada di PTAI adalah persoalan pembentukan watak kepribadian dan akhlak karimah. Dari sisi penciptaan intelektualitas, PTAI memang harus diakui cukup banyak melahirkan intelektual-intelektual Muslim. Namun, pada saat yang sama sebenarnya pembentukan masyarakat beragama tidak hanya untuk pembentukan intelektualitas. Ranah lain yang amat fundamental dan strategis dalam pembentukan masyarakat beragama adalah pembentukan sikap spiritualitas dan sikap akhlakul karimah. Dua fungsi ini agaknya terabaikan dalam garapan kurikulum PTAI selama ini. Karena pembentukan dua sikap itu, tak hanya bisa diselesaikan di dalam kelas.

”Pengondisian itu, tak bisa lain yang efektif selama ini melalui wadah pesantren atau model Ma’had Al-Ali, di mana siswa selain dirangsang dengan intelektualitas dalam lingkungan yang dikondisikan, mereka juga diarahkan untuk bertumbuh dan berkembang spiritualitasnya dan semakin baik perilaku akhlaknya dalam pergaulan sehari-hari,” papar Imam.

Lalu mengapa PTAI terbawa ke dalam arus seperti yang terjadi selama ini? Menurutnya, setidaknya hal itu karena kalangan PTAI merespon adagium ‘ilmu agama tanpa ilmu umum seperti orang buta, tetapi ilmu umum tanpa ilmu agama seperti orang lumpuh’ secara parsial. Justru yang banyak ditangkap adalah semangat untuk memperbesar ilmu umumnya, termasuk bagaimana menafsirkan ilmu-ilmu agama dengan kerangka ilmu umum, lalu terjadi kajian-kajian saintifikasi terhadap agama. Kesemarakan semacam ini memang membawa angin baru dalam kajian-kajian agama. Namun sangat dirasakan pendekatan semacam ini membawa pada kekeringan pemahaman keagamaan, dan kurang membawa semangat ketentraman dan kedamaian hati.

Kembali ke khittah
Di sisi lain, jelas Imam, di samping karena PTAI merespon adagium di atas secara parsial, ada yang terlupakan dan ini menyangkut akar historis dari keberadaan PTAI. Seperti diketahui dalam sejarahnya, berdirinya PTAI awalnya tidak terlepas dari upaya meningkatkan fungsi-fungsi pendidikan yang diemban pesantren. Karena itu, yang banyak terlibat dalam proses pendirian PTAI banyak dari kalangan pesantren. Namun setelah PTAI dinegerikan, secara lambat laun PTAI meninggalkan orang-orang pesantren termasuk kalangan ulama yang merintisnya. Rekrutmen untuk pengadaan tenaga pengajar juga melalui alur birokrasi. Kondisi inilah yang akhirnya semakin menjauhkan IAIN dan STAIN dari sentuhan dan cengkraman ajaran ulama dan kiai-kiai pesantren.

Dalam kenyataannya kemudian, lanjut Imam, out-put dari IAIN dan STAIN mengalami pasang surut. Karena itu tak bisa dipungkiri jika kemudian ada yang ‘komplain’ lulusan PTAI banyak yang tak menguasai ilmu agama secara kaffah atau sempurna. Bahkan, yang menyedihkan ada pula yang bacaan Alqurannya kurang begituh fasih alias tidak paham tartil dan tajwid Alquran. Ini terjadi barangkali karena kelengahan, karena para pengasuhnya beranggapan bahwa mahasiswa yang masuk di PT tersebut diasumsikan sudah menguasai hal-hal yang mendasar dari ilmu-ilmu agama karena mereka kebanyakan lulusan pesantren. Padahal dalam kenyataannya, mereka banyak yang lulusan sekolah umum dan tak punya latar belakang pesantren.

Menurut Imam, IAIN dan STAIN tak bisa hanya mengandalkan untuk mengembangkan disiplin ilmu yang sudah ada seperti Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, Adab, dan Dakwah. Ada keinginan kuat bahwa sudah saatnya PTAI mengembangkan disiplin keilmuan secara utuh — yang tidak membedakan ilmu agama dan umum. Karena itu kemudian lahirlah keinginan untuk mengembangkan IAIN dan STAIN menjadi universitas sesuai dengan sifat universalitas ajaran Islam yang membuka diri untuk mengembangkan ilmu-ilmu lain yang diyakini akan memperluas pemahaman terhadap nilai-nilai dan petunjuk-petunjuk yang diisyaratkan lewat Alquran dan Sunnah Nabi.

”Atas dasar kenyataan itulah, kami bertekad untuk mengundang kembali kiai pesantren dan ulama untuk mengelola STAIN Malang dengan mendirikan Ma’had Al-Ali Sunan Ampel STAIN Malang ini,” kata Imam.

Kini pembangunan gedung Ma’had Al-Ali ini sudah rampung. Pada tahun ajaran baru ini akan menampung 1.000 santri putra-putri. Ke-1.000 santri itu adalah mahasiswa baru yang akan digodok di pesantren selama empat semester atau dua tahun pertama. Mereka dididik secara khusus untuk menguasai ilmu-ilmu dasar keislaman seperti menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Suasana Ma’had Al-Ali ini juga dirancang layaknya pesantren tradisional yang setiap harinya kental dengan nuansa kehidupan Islami.

Secara global tujuan Ma’had Al-Ali adalah untuk mengondisikan terbentuknya tradisi akademik dalam pengembangan ilmu keagamaan, iptek, bahasa dan seni, yang program-programnya dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh antara program akademik dan program pondok pesantren. Semua itu diharapkan berjalan secara elegan dan bekelindan karena dikelola secara profesional sehingga harapan untuk menciptakan lulusan sarjana yang memenuhi tuntutan masyarakat yaitu ulama yang intelektual profesional dan atau intelektual profesional yang ulama dapat terwujud.

Ma’had Al-Ali itu juga akan dijadikan wahana pembinaan mahasiswa STAIN Malang dalam bidang pengembangan spiritual, menjadi pusat penelitian dan pengkajian keagamaan, iptek, bahasa dan seni. Di samping untuk fungsi internal kampus, juga sebagai pusat pelayanan informasi keagamaan kepada masyarakat luas.

Program-program yang akan disajikan kepada seluruh santri di lembaga ini adalah menyangkut pengkajian kitab-kitab Islam seperti Alquran dan tafsirnya, fikih, ushul fikih, akhlak dan tasawuf. Yang terpenting adalah pembentukan lingkungan berbahasa Arab dan bahasa Inggris secara intensif dan kreatif. Agar santri yang digodok dalam Ma’had Al-Ali ini benar-benar menguasai bahasa Arab dan Inggris, maka dua bahasa itu menjadi bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari. ”Saya kira ini untuk menindaklanjuti program khusus bahasa Arab yang diterapkan di STAIN Malang dalam dua tahun terakhir yang hasilnya luar biasa dan mendapat respon dari kalangan masyarakat luas,” papar Imam.

copyright@hasyim/1429h

Written by Hasyim

November 27, 2008 pada 1:09 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: