EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Akar Konflik Israel – Palestina

leave a comment »

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam > wawancara dengan > TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak > 27 Desember > lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama > puluhan tahun. Dalam > ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali > ini merupakan > kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel > berdiri tahun > 1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab > yang tidak bisa > berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk > negara-negara Eropa mengutuk > keras serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk > terus melancarkan > serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan > pasukan cadangan > sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud > Barak, yaitu > menggulingkan Hamas. > Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu > bangsa dengan bangsa > lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. > Disana terbentang > benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad > shallallah ‘alaihi > wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara > Yahudi dan Romawi, > konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik > antara Musa dengan > Fir’aun, bahkan konflik antara Yusuf ‘alaihissalam > dengan > saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi > antara Allah Ta’ala > dengan iblis laknatullah ‘alaih. > Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, > yakinlah Anda > akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman > modern yang penuh > kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. > Yahudi sendiri > adalah bangsa “terkuat di dunia”, dalam arti: > merekalah satu-satunya ras > manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah > Ta’ala.

> Sejarah Kebangkitan Yahudi > Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut > kembali > catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana > kita akan menemukan > bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. > Jika tidak > demikian, maka kita hanya akan “konsumen terbaik” > berita-berita media massa > seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai > sejak era Perang > Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, > Intifadhah akhir 80-an, > tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, > pembunuhan Syaikh > Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll. sampai serangan > Israel saat ini. > Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda > waktu dan para > pelakunya saja.

> Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di > dunia, dengan > memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala:

> > > [1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim > ‘alaihissalam. Ibrahim > memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq ‘alaihimassalam.. > Ismail nanti > menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq > mempunyai anak Ya’qub > ‘alaihissalam. Nah, Ya’qub inilah yang kemudian > disebut Israil, sehingga > anak-anak Ya’qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

> > [2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita > segera tertuju kepada > anak-anak Ya’qub. Mereka adalah Yusuf > ‘alaihissalam, Benyamin, dan 11 > saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya > dengan matahari, > bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf > sedang bersujud > kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan “angka > keramat” bagi Yahudi sampai > saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari > karakter 13 ini.

> > [3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, > yaitu: sifat > keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan > dari garis Yusuf > ‘alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari > sifat saudara-saudara > Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak bakat-bakat > kelicikan, > dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas > potensi, bukan > kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya’qub, > seluruh anak-anaknya > tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat > berbicara tentang Bani > Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat > durhaka. Namun > setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan > lagi mengikuti > agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap > durhaka > seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: > 85).

> > [4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf > ‘alaihissalam > bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa > Yusuf membantu > bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir > di wilayah > Kan’an. Disana Ya’qub dan anak-keturunannya mulai > membangun kehidupan. > Mereka memilih tinggal di Kan’an sebab dekat dengan > Mesir yang makmur, > sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu > anak keturunan > Ya’qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana > mulanya, hubungan > bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya’qub lama-lama > menjadi buruk. Alih-alih > Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka > malah menjadikan > Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh > Ya’qub dan Yusuf, > nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal > itu bisa terjadi > karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas > bangsa Mesir. > Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap > sportif kepada > Yusuf, > kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

> > [5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat > mengkhawatirkan. Bukan saja > karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan > karakter sebuah > bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun > mereka tertindas oleh > sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa > bakat-bakat > kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di > bawah sistem > perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan > pemikiran luar biasa. > Oleh karena itu Allah Ta’ala mendatangkan Musa dan > Harun ‘alaihimassalam > untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan > untuk mengislamkan > Fir’aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani > Israil dari > penindasan Fir’aun. Dalam Al Qur’an: Dan Musa > berkata: “Hai Fir’aun, > sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan > semesta alam, wajib > atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali > yang hak. > Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang > nyata dari > Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani > Israil (pergi) bersama aku.” (Al A’raaf: 104-105). > Musa tidak pernah > diperintahkan untuk memerangi Fir’aun, tetapi membawa > Bani Israil tinggal di > Palestina (waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu > dicatat juga, Fir’aun > (Pharaoh) adalah gelar raja-raja Mesir, bukan nama > seseorang. Sedangkan > Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah bukanlah > Fir’aun yang memangku Musa di > waktu kecil, lalu direnggut janggutnya oleh Musa. > Fir’aun dalam Al Qur’an > lebih mencerminkan tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar > pribadi].

> > [6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, > Fir’aun dan bala > tentaranya tenggelam di Laut Merah.. Lalu mereka menetap di > Ardhul Muqaddas > (Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di > dalamnya. (Al > Maa’idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani > Israil kedua setelah era > Ya’qub dan Yusuf di wilayah Kan’aan. Musa dan Harun > mendampingi Bani Israil > sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani > Israil tidak > henti-hentinya menguji kesabaran Musa ‘alaihissalam. > Betapa banyak > kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan > Nabinya sendiri, > Musa dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan > Allah berperang di > Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka > meminta Musa agar > membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum > tertentu; mereka > mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; > mereka hendak > membunuh Harun ‘alaihissalam karena selalu menasehati > mereka; mereka hampir > tidak melaksanakan > perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena > terlalu banyak > bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta > bawang, menitumun, > kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa, sehingga > Nabi shallallah > ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semoga Allah > merahmati Musa, karena dia > telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang menimpa > Nabi), tetapi dia > tetap sabar.” (HR. Bukhari-Muslim) . Sangat > mengagumkan kalau melihat > ketabahan perjuangan Musa ‘alaihissalam. Di dalamnya > terdapat sangat banyak > inspirasi untuk menghadapi konspirasi global seperti saat > ini. Orang-orang > Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal > di era > nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka sia-siakan. > Musa itu lebih > dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada Yahudi > laknatullah itu.

> > [7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi > merupakan kristalisasi > dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak > perilaku > saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam, masa perbudakan di > Mesir, kedurhakaan > mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, > dan Nabi-nabi > lainnya ‘alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di > hadapan Nabi > shallallah ‘alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al > Qur’an disebutkan sebuah > ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: > “Lalu ditimpahkanlah > kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan > kehinaan, serta mereka > mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena > mereka selalu > mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara > tidak hak. > Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka > dan melampaui > batas.” (Al Baqarah: 61).

> > [8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi > adalah Kerajaan > Nabi Sulaiman ‘alaihissalam di Palestina. Beliau adalah > putra Nabi Dawud > ‘alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud > adalah seorang pejuang > yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh > karena itu bangsa > Barat mengenal kisah “David and Goliath”). Beliau > ikut dalam pasukan Bani > Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di > masa Nabi Samuel > ‘alaihissalam. Al Qur’an menjelaskannya dalam Surat > Al Baqarah ayat 246-251.

> > [9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan > materinya yang > sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, > sebagai harta > terpendam “King Solomon”. Sampai saat ini > kekayaan itu masih menjadi > misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di > balik permukaan > bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani > Israil semakin > merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh > Nebuchadnezzar dari > Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam > Surat Al Israa’ > ayat 4-5.

> > [10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, > mereka menyebar ke > berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah > Arab, ke anak > benua India, dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal > dengan istilah > DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat > keamanan di Eropa, > mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk > menghasut Romawi agar > memusuhi Isa ‘alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah > Ashabul Kahfi adalah > sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih > ‘alaihissalam.

> > [11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka > datang ke > Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari > kekejaman Romawi. > Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang > akan datang > setelah Musa dan Isa ‘alaihimassalam. Mereka ingin > “memaksakan” agar > Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka > butuhkan agar > mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di > jaman Musa dan > Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian > tidak lagi di pihak > mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah > sekali. Dalam Al > Qur’an disebutkan: “Dan ketika datang kepada > mereka (Yahudi) sebuah Kitab > dari sisi Allah (Al Qur’an) yang membenarkan keberadaan > apa yang ada di sisi > mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon > (kedatangan Nabi) > agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah > datang (Kenabian > dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. > Maka laknat Allah > atas orang-orang kafir itu (Yahudi).” (Al Baqarah: > 89).

> > [12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa > Kenabian jatuh ke > tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail > ‘alaihissalam. Itu pun turun di > Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi > telah > habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa > ‘alaihissalam ini. > Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama > budaya Arab, > berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan > istilah Arab, bukan > istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam > konflik antara > kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi > membela Aus, > sebagian mendukung Khazraj.

> > [13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah > Subhanahu Wa Ta’ala. > Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa > Arab. (Al > Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur’an dijelaskan sangat > banyak > kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh > Allah. Bahkan > tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa > ‘alaihissalam diturunkan. > Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya > adalah: “Tidaklah aku > diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan > Bani Israil.” > Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi > kedatangannya membuat > muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci > baru, yaitu Injil > (bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi > sebelumnya). Isa > juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani > Israil. Isa > dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum > Bani Israil > sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi > setelah Kenabian > terakhir jatuh ke tangan bangsa > Arab. (Al Baqarah: 90).

> > [14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh > Nabi Muhammad > shallallah ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan > perilaku jahat kaum > Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut > akar-akarnya dari > Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi > tersingkir, seperti > kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir > mereka di > Khaibar.

> > [15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi > shallallah ‘alaihi wa > sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi > menyingkir dari Jazirah > Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. > Dalam masa > ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, > seperti Spanyol, > Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

> > [16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya > sangat unik. Mereka > tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan > mengharamkan asimilasi. > Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama > membangun kesombongan > etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis > berbasis ribawi dan > mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual > pengorbanan, mereka > membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu > dipakai untuk > persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat > semacam drum yang > di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada > saluran untuk > mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum > itu, sampai > tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke > bawah. Ritual > semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir > dari negara-negara > tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol > melarang Yahudi > tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman > mereka dalam soal > ritual keji itu.

> > [17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya > menyebar ke > negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. > Kebetulan waktu itu > rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang > baru ditemukan > oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika > merdeka dari tangan > Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu > Benyamin Franklin > mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia > menyebut Yahudi > seperti bangsa “vampire” yang tidak bisa damai > dengan bangsa lain. Tepat > sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca > sepak terjang > Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak > memahami arti peringatan > Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan > sekitar 400 tahun > silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika > saat ini adalah > akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

> > [18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para > ahli sejarah, > yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian > ini terpisah > jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah > ‘alaihi wa > sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan > Yahudi di Madinah > telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di > tengah-tengah > masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi > dari ajaran Islam > yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani > tinggal, selama > mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri > ini, mereka diberi > pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. > Tentu saja, Yahudi > berusaha “bersikap sopan”. Di seluruh dunia tidak > ada yang memperlakukan > mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini > Yahudi tidak mungkin > akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi > pula, Yahudi > waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut > akan dikutuk > oleh > Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di > Turki Utsmani, Yahudi > tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi > berlaku baik. Tanpa > diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala > konsep-konsep > kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru > dimanfaatkan Yahudi > untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia, > seperti kita > saksikan saat ini.

> > [19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga > mempersiapkan beberapa > jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu: > > . Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah > masyarakat Turki > Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi > kekafiran secara > langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August > Comte. Dengan > falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan > sifat furqan akidah > Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan > dari gerakan ini > adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat > Islami. Karena itu > pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya > kepada Sultan > Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At > Taturk sang > terkutuk. > > . Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab > dan Dunia Islam. > Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah > Islamiyyah. Kaum > Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois > sesuai etnik dan > wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, > mustahil “Kerajaan > Yahudi” dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. > Kalau Anda saksikan > bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, > masing-masing saling > konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh > Yahudi. Di jaman itu > Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk > memerdekakan > negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian > hari terbuka > hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota > setia Freemasonry.. > (Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan > pemikiran > keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat > sifat > Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah > Islamiyyah. > > . Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi > menyebarkan paham > demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di > negeri-negeri Islam. > Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. > Peluang-peluang > kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara > terbanyak, > sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa > nafsunya. > > . Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, > termasuk agen-agennya > di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani > lahirnya negara Israel > pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik > pendirian Israel > melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika > mendukung penuh > Israel. Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust > dipakai agar Yahudi > dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang > dimiliki Amerika dan > Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar > ambisi-ambisinya. > > . Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media > massa, membuat > satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar > keuangan dunia, > memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka > juga menguasai > Hollywood, dunia akademis, dunia riset, fashion, dan > sebagainya. Termasuk > dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang > kita kenal sebagai > SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) . Inilah > kenyataan yang > kemudian disebut sebagai: “Yahudi menggenggam > dunia!” Bahkan negara sekuat > Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. > Termasuk Barack Obama > yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

> > [20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar > Yahudi sejak jaman > Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad > shallallah ‘alaihi wa > sallam. Yahudi sangat membutuhkan “Kerajaan Bani > Israil” untuk mengalahkan > orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, > dalam arti mereka > percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka > mulia, dan > musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. > Tetapi setelah jelas > di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani > Israil, maka > mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa > yang mereka > lakukan? Mereka hendak mendirikan “Kerajaan Bani > Israil” dengan kekuatan > tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu > berhasil, tahun 1948 > lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin > sebagai orang kafir. > Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, > sehingga disebut > kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

> > [21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di > Palestina, waktu itu ada > tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia. > Mengapa dipilih > tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan > yang sangat > cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang > dekat dengan > sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan > sekitarnya. Namun > resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari > negara-negara > tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi > harus > mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik > agen-agen loyalisnya > di negara-negara Arab.

> > [22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan > tahun terjadi konflik > berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, > selain karena > memang “Kerajaan Bani Israil” merupakan cita-cita > peradaban Yahudi sejak > ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non > Yahudi yang > membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, > IMF, World Bank, > dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga > disadari banyak > agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. > Mereka setiap hari, > siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah > orang-orang > kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, > Turki, dll. banyak > orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah > menjadi Yahudi.. Bahkan > di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Bahrain, dll. > banyak dijumpai > kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil > konspirasi Yahudi > untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai, Abu > Dhabi, dan lainnya > tidak > kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

> > [23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk > agama Samawi > (ajaran Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, > Zakariya, Yahya, Isa > ‘alaihimussalam) . Mereka adalah orang-orang yang > sangat arogan dengan > etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap > etnis mereka > sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim > dalam soal > etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka > berani menghina Allah, > marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika > Kenabian terakhir jatuh > ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis “kitab > suci” tandingan bagi Taurat > (Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, > merusak kehidupan di > muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris “darah > biru” Nabi-nabi, > merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah > langsung oleh > Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan > lain-lain.

Yahudi > benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang > pernah mendebat > Allah Ta’ala: “Ana > khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min > thiin” (aku lebih > baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia > Engkau ciptakan dari > tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di dunia > internasional, > adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika > simbol-simbol yang > selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh, logo > yang dipakai > Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada > ribuan logo atau > lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah. > > Yahudi Merusak Peradaban > > Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk > “Kerajaan Bani > Israil” seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa > susahnya membangun negara > seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi > canggih, serta SDM > handal.

Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah > sudut dunia. > Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih > buruk dari > Israel. Negara seperti Bosnia, Chechnya, Kamboja, Myanmar, > Timor Leste, dan > lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi > pula, mengapa > Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang > merupakan wilayah milik > Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban > Islam, di Timur > Tengah. > > Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain > harus menegakkan > “Kerajaan Bani Israil” di Palestina, mengapa > mereka harus juga menghancurkan > peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup > menempuh cara-cara > politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban > manusia?

Kenyataan > yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan > hanya dengan > menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan > menyebarkan kehancuran > peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama > ini, adakah yang > selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank > ribawi, IMF dan World > Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, > perjudian, dan lainnya? > Hingga ke anak-anak balita pun, banyak “diracuni” > oleh kartun-kartun Walt > Disney.

> > Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru > sangat mempercayai > khabar Al Qur’an. Sebenarnya, mereka mengimani > ayat-ayat Al Qur’an, tetapi > anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al > Qur’an. Yahudi sangat > mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa’ berikut ini: > > Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab > itu: “Sesungguhnya > kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan > pasti kamu akan > menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” > > Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama > dari kedua > (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami > yang mempunyai > kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di > kampung-kampung, dan itulah > ketetapan yang pasti terlaksana. > > Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan > mereka kembali dan > Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan > Kami jadikan kamu > kelompok yang lebih besar. > > Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi > dirimu sendiri dan > jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu > sendiri. Dan > apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, > (Kami datangkan > orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan > mereka masuk ke dalam > Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu > memasukinya pada kali > pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja > yang mereka kuasai. > (Surat Al Israa’: 4-7).

> > Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan > Sulaiman > dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi > tercerai-berai. > Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi > kuat dan bisa > mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang > ini, ketika > “Yahudi menggenggam dunia”. Dan nanti di puncak > kezhalimannya, Israel akan > dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu > dihancurkan. > Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung > saat Yahudi > dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya > sederhana, sebab waktu > itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih > numpang di negeri > orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu > (Palestina) tempat > sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

> > Yahudi sebenarnya mengimani “jadwal sejarah” > sebagaimana disebutkan Al > Qur’an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi > kesempatan untuk > merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana > kenyataan saat ini. > Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan > mengatakan bahwa 6 > juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia.

> Yahudi tidak > merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel, bahkan tidak > cukup dengan > menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela > di bumi dengan > segala kedurhakaannya. > > Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar > ingin melawan > Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab > dan Ummat Islam > sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin > melawan Allah > Ta’ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. > Yahudi adalah satu-satunya > ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan > mereka: “Tangan Allah > terbelenggu. ” Kemudian mereka dikutuk oleh Allah > karena perkataannya itu. > (Al Maa’idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, > “Sesungguhnya Allah > itu fakir dan kami kaya raya.” (Ali Imran: 131). > Disini ada dendam sejarah > yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap > eksistensi agama Allah.

> > Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur’an, tetapi > sekaligus menentang > eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis > yang mengimani > Allah, tetapi mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan > maksudnya, Yahudi > mengangkat simbol “Messiah”, yang pada hakikatnya > adalah dajjal laknatullah. > Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi > orang-orang > beriman. > > Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di > Palestina. Ia > adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam > sejarah mereka. > Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku > tertentu.

> Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan > watak durjana luar > biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu “telah > disiapkan” untuk menjadi > cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, > mengapa A Qur’an > banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah > tercerai-berai di > Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus > keluar dari > negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk > melawan Yahudi > adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur’an > (khususnya Surat Al > Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke > Gaza bukan > serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with > new aggression!

Sumber : YUSUF BAHARUDIN

Strategic & Planning Procurement

Dept PT. Samsung Electronics Indonesia OMS Division

Phone : 62-21 8983-7463 Fax : 62-21 893-5064

Written by Hasyim

Februari 11, 2009 pada 2:02 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: