EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Ekonomi Kaum Yahudi

leave a comment »

Tidak ada yang istimewa dengan kekuatan ekonomi kaum Yahudi. Sebagaimana lazimnya kaum perantau, kaum Yahudi yang tercerai-berai dari kampung halamannya selama ratusan tahun telah dipaksa oleh keadaan untuk bertahan hidup dengan berdagang dan berusaha jauh lebih keras daripada penduduk lokal.Salah satu negara perantauan mereka adalah Amerika Serikat (AS), yang saat ini menjadi negara adidaya dalam berbagai bidang. Posisi AS sebagai negara adidaya itulah yang menjadikan pengusaha Yahudi yang sukses di negara itu menjadi sangat berpengaruh di dunia.

Jadi, sebenarnya ada dua faktor utama yang dapat menerangkan kekuatan ekonomi kaum Yahudi saat ini. Pertama, jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras. Kedua, posisi AS sebagai negara adidaya.Lihatlah kaum Cina yang juga senang berkelana jauh dari negerinya, memetik hasil kerja keras mereka di tanah perantauan. Lihat pula kaum Minang, kaum Bugis, dan kaum-kaum lainnya yang mempunyai tradisi berkelana. Mereka memetik hasil kerja keras di tempat-tempat perantauannya.

Karena itu, kekuatan ekonomi kaum Yahudi sebenarnya tidak lebih dari kekuatan ekonomi perantau. Posisi sosial ekonomi yang baik di negara-negara perantauan telah memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan pergaulan di kalangan atas.Kedekatan pengusaha dan penguasa semakin mengokohkan pengaruh pengusaha Yahudi. Apalagi, bila pengaruh itu berwujud di negara adidaya seperti AS.

Realita inilah yang sering kali merefleksikan citra dominannya kekuatan ekonomi kaum Yahudi di seluruh dunia. Citra inilah yang tertanam dalam persepsi kita akan kehebatan ekonomi kaum Yahudi. Bahkan, jauh lebih hebat dan menakutkan daripada kekuatan yang sebenarnya.Persepsi inilah yang sering kali menghantui dan mengerdilkan ekonomi umat Islam. Sering kali bayangan jauh lebih besar dari aslinya, dan bayangan inilah yang menghantui dan mengerdilkan ekonomi umat Islam. Kehebatan ekonomi kaum Yahudi menjelma menjadi mitos.

Ketika Hizbullah pimpinan Hasan Nasrallah mampu bertahan dan mengejutkan Israel dengan kegigihan perlawanannya di Lebanon, pupuslah mitos kedigdayaan militer Israel yang selama puluhan tahun menghantui negara-negara Arab. Israel tiba-tiba saja kehilangan power to deterrent (kekuatan menggertak) negara-negara Arab dengan kekuatan militernya.Begitu pula dengan rontoknya ekonomi AS, bangkrutnya Lehman Brothers, dan berbagai lembaga bisnis yang selama ini menjadi kebanggaan kapitalisme, mengikis mitos kedigdayaan ekonomi AS dan juga mitos kedigdayaan ekonomi kaum Yahudi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi AS.

Namun, hal ini bukanlah tanda-tanda kehancuran kekuatan ekonomi kaum Yahudi, karena kekuatan mereka ditopang oleh dua faktor utama, yaitu jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras dan posisi AS sebagai negara adidaya.Yang saat ini terpukul hanyalah salah satu faktor saja, yaitu faktor AS sebagai negara adidaya. Faktor jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras masih melekat kental pada kaum Yahudi.
Rezeki adalah rahasia Allah SWT, dan Dia pasti adil dalam membagi rahmat-Nya. Mustahil hukumnya bila Allah SWT melebihkan rezeki kaum Yahudi hanya semata-mata karena mereka keturunan Yahudi.

Kini, saatnya kita bangkit memupuskan mitos kedigdayaan ekonomi kaum Yahudi, dan membuktikan pada dunia, siapa pun yang mau bekerja dengan jujur kepada Allah SWT (shidiq), jujur kepada manusia (amanah), maka ia akan mendapat kepercayaan pasar.Dan, siapa pun yang mau bekerja dengan cerdas dalam membaca situasi (fathonah), cerdas dalam menyampaikan (tabligh), maka ia akan mendapat pangsa pasar.AS dibangun oleh para perantau dari berbagai pelosok dunia dengan mimpinya masing-masing. Kegigihan perjuangan mereka mewujudkan mimpi itu merupakan modal penting menjadi negara adidaya.

Allah SWT tidak akan menjadikan umat Islam menjadi pemimpin dunia hanya semata-mata karena kita beragama Islam. Nilai-nilai kejujuran, kecerdasan, dan kegigihan yang diajarkan Islam-lah yang akan menjadikan umat Islam pemimpin dunia. Islam yang hidup dalam masyarakat, bukan Islam yang berjarak dari masyarakatnya.Tidak cukup bagi Hizbullah sekadar beragama Islam untuk mematahkan mitos militer Israel. Tidak cukup bagi pelaku ekonomi syariah sekadar menyoraki runtuhnya mitos ekonomi AS untuk menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Ekonomi Yahudi memang hanya sebuah mitos yang terlalu dibesar-besarkan. Ekonomi syariah pun akan menjadi sekadar mitos bila kita tidak gigih memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Tidak cukup sekadar membacakan shalawat kepada Rasulullah SAW untuk membuktikan cinta kita kepada beliau. Tidak cukup sekadar berzikir untuk membuktikan cinta kita kepada Allah SWT.Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Makhluk yang paling ajaib imannya adalah umatku di akhir zaman. Mereka yang tidak pernah berjumpa denganku, namun mereka mencintaiku sebagaimana kalian mencintaiku.

Mereka menghidupkan sunahku seakan mereka pernah berjumpa denganku.”Ya Rasulullah SAW, kami tidak dapat berjumpa denganmu di dunia ini, maka izinkan kami berjumpa denganmu di akhirat kelak. Ya Rasulullah SAW, kami tidak dapat bersamamu di Badar dan membelamu di Uhud, maka izinkan kami menebusnya dengan menghidupkan sunahmu di akhir zaman ini.

Written by Hasyim

Juni 17, 2009 pada 12:57 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: