EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Nusantara Dalam Genggaman Pinisi

leave a comment »

Desa Ara, desa Lemo-lemo dan desa Bira yang terletak di Semenanjung Bira Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan adalah pelopor pembuat kapal pinisi yang tersohor se-Nusantara. Dari para punggawa Semenanjung Bira ini lahir puluhan ribu kapal motor kayu pelayaran rakyat atau kapal pinisi.


Selama ratusan tahun pinisi menjadi alat perlawanan saudagar pribumi dalam menghadapi monopoli perdagangan Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC). Bentuk asli pinisi tipe padewakang (atau disebut juga paduakang) yang ramping menjadikannya kapal gesit, dengan daya jelajah yang jauh. Dengan padekawang itulah para pelaut semenanjung Bira menyelinap diantara kapal patroli VOC, mengacak-acak monopoli perdagangan rempah-rempah Maluku.

Pada awal abad ke-18 para pelaut Bira menakhodai pinisi padekawang hingga ke pantai Australia demi memburu teripang kualitas terbaik. Padekawang yang mampu membawa muatan hingga 140 ton berkeliling menghimpun barang dari berbagai pelosok Nusantara (rotan, lilin, agar-agar, sirip hiu, kulit, daging kering, kulit penyu, sarang burung dan tikar rotan) dan menjualnya kepada saudagar kapal jung dari China.

Guncangan politik lokal tahun 1950-an, kelangkaan kayu, dan perkembangan teknologi kapal motor membuat kejayaan Semenanjung Bira memudar. Namun punggawa Semenanjung Bira menolak menyerah, dan mereka terus melanjutkan jalan hidup sebagai punggawa pinisi. Kekuatan tradisi para punggawa ini  sehingga membuat kapal motor kayu pelayaran rakyat ini tersebar mulai dari Jampea, Selayar, Merauke, Sorong, Kupang, Ende, Bima, Ambon, Ternate, Tarakan, Balikpapan, Batu Licin, Kota Baru, Banjarmasin, Sampit, Kuala Pembuangan, Kumai, Pontianak, Jakarta, Surabaya, hingga mencapai Belitung, Palembang, dan Jambi di Sumatera.

Sayangnya, pelayaran rakyat dengan kapal kayu ini menyusut seiring berbelitnya tata niaga kayu. Mirip dengan berkurangnya galangan pinisi di Semenanjung Bira yang disebabkan kelangkaan kayu. Meski menyusut, pelayaran rakyat masih melanjutkan tradisi pinisi padewekang sebagai pelayaran di luar sistem yang melayari perairan Nusantara dan menembus pulau yang tak terjangkau kapal pelayaran Nasional. Kapal pinisi ini digunakan untuk mengangkut beras, sapi, semen, bahkan suara pemilihan umum ke pulau paling terpencil sekalipun dan tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini lautan luas Nusantara masih dalam genggaman pinisi.

*Pinisi merangkai Nusantara

Written by Hasyim

Februari 12, 2010 pada 5:52 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: