EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Kapan Mereka Bisa Makan Nasi Lagi?

leave a comment »

Jemari kaki dan tangan lelaki itu terlihat sangat pendek. Lima jemarinya utuh, tapi tak bisa digerakkan atau dipakai menggenggam apa pun. Kelopak matanya rapat, tak pernah terbuka. Badannya terlihat kerdil. Kulitnya kasar dan legam. Rambutnya kusam. Dagunya dipenuhi jenggot yang sebagian sudah mulai memutih.

Tukimin (44 tahun), lelaki tersebut, hanya bisa terduduk diam. Dia adalah satu di antara empat bersaudara yang semuanya menderita keterbelakangan mental. Tukimin tiba-tiba buta saat usianya tujuh tahun, setelah sebelumnya mengalami demam tinggi. Selain Tukimin, ada Miratun (40), Legi (32) dan Sinem (27). Mereka adalah warga Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Miratun bernasib jauh lebih baik daripada saudara-saudaranya. Ia masih bisa diajak bercakap-cakap, walaupun terkadang tidak //nyambung//. Senyumnya selalu merekah memperlihatkan geliginya yang menguning. Tak jarang, wajahnya tiba-tiba berubah bloon.

Legi lain lagi. Perempuan yang bibirnya tak bisa terkatup rapat ini, hanya bisa menatap orang dengan pandangan hampa. Legi sejak lahir sudah bisu dan tuli. Belakangan, pandangannya pun mulai kabur. Ia hanya bengong saat ditanya namanya siapa. “Dia tidak bisa bicara, dia gagu,” ujar Miratun, kakaknya sambil tertawa.

Tak jauh dari tempat ketiga kakak beradik ini duduk, ada seorang perempuan berpakaian lusuh. Sinem, adalah bungsu dari keluarga yang semuanya idiot ini. Ia hanya bisa ngesot di lantai tanah rumahnya. Sekujur kulit tubuhnya terlihat kusam. Bajunya dekil. Aroma kurang sedap tercium saat menghampirinya lebih dekat.

Sinem tak bisa beranjak dari duduknya di tanah tanpa alas itu. Ia baru bisa meninggalkan tempatnya jika ada orang lain yang menggerakkannya. Badannya lumpuh total. Diajak bicara pun sulit. Jika ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, semuanya tak jelas. Seorang warga desa membisikkan, jika Sinem yang malang itu pernah digagahi oleh pamannya sendiri.

Miratun, dengan segala kekurangannya, menjadi tumpuan ketiga saudaranya. Miratunlah yang merawat ketiga pasien idiot, kakak dan adik-adiknya itu. Sambil tetap mengumbar senyum, Miratun menuturkan, ia pernah menikah dengan lelaki yang juga idiot dari kampung sebelah. “Tapi tidak lama, saya ditinggalkan, dia ada di kampungnya,” ujar Miratun.

Namun, tak seluruh anak pasangan Kasan dan Sukinah yang sudah almarhum itu menderita idiot. Menurut Patona (24), Miratun memiliki saudara delapan orang. Empat orang lainnya tidak idiot meskipun memiliki kecacatan. “Ibu saya buta, tapi tidak idiot,” ujar Patona, keponakan Miratun.

Patona mengatakan, keluarga besarnya pernah tinggal satu atap di rumah peninggalan Kasan dan Sukinah. Namun beberapa tahun lalu, mereka hijrah ke Surabaya dan mencari pekerjaan. Patona yang kini memiliki seorang anak balita, sempat khawatir dengan kondisi keluarga besarnya. Akhirnya, ia pun hijrah ke kampung suaminya di Surabaya bersama sang ibu. “Saya khawatir waktu hamil. Tapi saat lahiran lihat anak saya normal, senang sekali,” ujar Patona.

Kini, Patona hanya datang sesekali menengok paman dan bibinya. Sebagai anggota keluarga yang normal, ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak. “Mau diapa, kondisi mereka seperti ini,” ujarnya lirih.

Di desa seberang, Karang Patihan, Kecamatan Balong, kelompok masyarakat dengan karkateristik serupa pun ditemukan. Ginem, Painten, dan Boinem adalah tiga bersaudara. Painten duduk bengong di depan tungku perapian. Perempuan idiot yang usianya sekitar 40 tahun itu sesekali mengangkat panci di atas tungku.

Saat ditanya masak apa, dia hanya tersenyum. “Hanya gandum dan daundaunan yang ada,” ujar Ginem. Dia satusatunya anggota keluarga ini yang bisa diajak berkomunikasi. Ketiganya memiliki postur tubuh yang kerdil dan sulit berbicara lancar. Jika berbicara, suaranya terdengar lirih dengan intonasi tak jelas.

Boinem, tingkah lakunya seperti anak lima tahun yang bermain-main di tanah dengan acuhnya. Padahal, usianya sudah 35 tahun. Beberapa lembar daun singkong dipetiknya, bukan untuk dimasak menjadi sayur, melainkan menjadi mainan. Sesekali, dia tertawa lepas.

Miris. Mungkin itu satu pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Desa Krebet dan Sidoharjo, Kecamatan Jambon, serta desa Karang Patihan dan Pandak, Kecamatan Balong, Ponorogo. Betapa tidak, hampir di setiap sudut desa, kita menyaksikan orang-orang idiot. Karena itulah, jika berkunjung ke bumi reog ini, orang-orang dengan mudah menunjukkan tempat di mana orangorang yang mengalami keterbelakangan mental ini berkumpul. “Kampung idiot? Di sini ada empat desa, di sana memang banyak orang-orang idiot,” ujar Welas, warga Ponorogo.

Keluarga Miratun tak sendiri. Di empat desa itu, ada ratusan warga yang kondisinya hampir sama dengan Miratun bersaudara. Hari itu, rumah Miratun cukup ramai. Puluhan warga yang menderita keterbelakangan mental atau idiot berkumpul. Sebagian besar perempuan. Usia mereka sekitar 30 tahun. Tapi ada pula yang masih terlihat belia.

Wajah-wajah mereka tak memperlihatkan semangat. Tatapannya hampa. Seorang perempuan berbaju jambon, kepalanya terlihat selalu terkulai dengan bibir menjulur keluar. “Sedih menyaksikan semua ini,” ujar Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri saat mengunjungi sekelompok warga idiot di Desa Krebet.

Kemiskinan yang sangat lama, di masa sekitar tiga dekade lalu, diyakini pernah terjadi di dusun ini.

Patona mengakui, berpuluh tahun lamanya keluarga paman dan bibinya hanya bisa makan gaplek dan tiwul. Nasi adalah suatu makanan yang sangat istimewa bagi keluarga ini.

Kemiskinan yang bekepanjangan telah mengakibatkan lahirnya generasi-generasi yang idiot. Sekitar 1970-an, terjadi kemarau berkepanjangan di lereng Perbukitan Rajekwesi. Saat itulah malapetaka kemiskinan berawal.

Desa Patihan, Pandak, Sidoharjo, dan Krebet adalah tempat bermukimnya generasi-generasi yang lahir dengan kondisi yang mengalami kecacatan mental. Desadesa tersebut letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh gugusan Perbukitan Rajekwesi.

Desa Sidoharjo berada di lereng sebelah utara. Desa Karang Patihan di lereng timur, sementara Desa Pandak berada di tenggara. Namun, jarak antardesa mencapai puluhan kilometer yang dipisahkan hutan dan perbukitan kapur.

Kehidupan mereka sangat miskin. Sehari-hari, warga kebanyakan bekerja mencari pakan ternak, mengumpulkan batu, atau bekerja di sawah tetangga mereka. Tapi, bagi keluarga idiot, hampir tidak ada yang bisa mencari nafkah sen diri. Laksana benalu, hidup mereka selalu menggantungkan diri dari pemberian orang lain. Jangankan untuk bekerja, berkomunikasi dengan orang lain pun sulit. Mereka bisa tidak makan jika tak ada bantuan dari orang lain. Jatah beras miskin memang sudah tersalurkan, namun itu belum mencukupi.

Karena tak bisa diberdayakan, solusi yang ditawarkan Kementerian Sosial adalah akan membangunkan ‘rumah kasih sayang’. Di rumah makan khusus bagi warga idiot inilah, akan disediakan menu makanan sehat dan bergizi. “Kalau diberikan jaminan hidup, belum bisa menyelesaikan masalah. Taruhlah sudah diberikan, terus yang masak siapa? Menunya bagaimana? Karena itu, lebih baik kita bangunkan saja rumah makan ‘kasih sayang’. Mereka tinggal datang makan pagi, siang, dan malam di tempat itu,” ujar Salim.

Rumah makan yang tahun ini juga akan direalisasikan Mensos Salim itu rencananya akan dibangun di beberapa titik. Di lokasi permukiman yang berdekatan, misalnya, ada 100 hingga 200 orang, di situlah rumah kasih sayang akan dibangun. Bentuknya cukup dari kayu dan tak perlu mewah-mewah. Yang penting bersih, makanan ada dengan gizi yang cukup.

Itulah bentuk kongkret bantuan pemerintah yang akan diberikan pada sekelompok warga miskin yang ditak dirkan mengalami nasib mengenaskan dan terlahir dalam kondisi kecatatan mental akibat kemiskinan mendera mereka berpuluhpuluh tahun silam. Mereka tak bisa diberdayakan, dan hanya bisa menunggu uluran tangan orang lain.

Untuk urusan makanan, masih banyak di antara kita yang berpikir, menu apa yang akan dipilih hari ini. Bahkan sering kali, menu yang tersaji di depan mata pun masih bersisa. Sementara, warga kampung idiot di Ponorogo sana, harus menunggu kapan mereka bisa makan nasi lagi.

Written by Hasyim

Juni 13, 2011 pada 12:54 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: