EDISI SPESIAL

Arsip 2008~2014

Promosi Sasando Dan Noken Ke UNESCO

with one comment

Alat musik sasando dari Nusa Tenggara Timur dan noken dari Papua telah didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.
“Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Bukan karena takut diklaim negara lain, tapi karena mereka (orang-orang) yang menggeluti musik sasando dan noken semakin habis,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Budi Priyadi.

Dengan pengakuan dari UNESCO nantinya akan ada kewajiban bagi Indonesia untuk terus melestarikan dua warisan kebudayaan itu.  Budi mengharapkan alat musik sasando yang biasanya memiliki 23 senar, dapat dimodifikasi menjadi 40 senar. “Kita harapkan ini bisa disetujui oleh UNESCO. Sebab, bukan hanya Indonesia yang mendaftarkan warisan kebudayaannya ke UNESCO,” kata Budi Priyadi.

Ia mengakui, sudah ada beberapa warisan budaya Bali yang diakui UNESCO. Hanya saja, jika dibandingkan dengan negara lain, warisan kebudayaan Indonesia yang diakui telah didaftarkan UNESCO masih terbilang minim.

Sasando dan Noken akan diumumkan tahun 2013, karena baru didaftarkan tahun ini. Sedangkan yang akan diumumkan UNESCO tahun ini adalah Tari Saman (Aceh), yang telah didaftarkan tahun lalu.
Selain itu, menurut Budi, seluruh tari-tarian tradisional Bali sudah didaftarkan di UNESCO. Begitu juga Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Written by Hasyim

November 10, 2011 pada 6:03 pm

Ditulis dalam FORUM HASYIM

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mendaftarkan alat musik Sasando dan Noken ke Unesco adalah sesuatu yang menggembirakan dan patut diacungi jempol. Namun di tengah kegembiraan itu saya terusik dengan pernyataan di atas yang mengatakan, ” Dengan didaftarkannya Sasando dan Noken di Unesco maka ada keawjiban bagi pemerintah Indonesia untuk melestarikan kedua alat musik itu “. Pernyataan ini bagi saya terasa aneh karena kedua alat musik ini adalah milik kita sebagai sebuah bangsa yang mestinya kewajiban menjaga dan melestarikannya adalah sebuah keharusan tanpa harus diwajibkan oleh Unesco untuk menjaga dan melestarikannya. Saya berharap bahwa marilah kita menempatkan diri sebagai sebuah bangsa yang dewasa yang memahami kewajiban dan hak tanpa harus seperti anak kecil yang setiap sa´at harus disadarkan oleh orang dewasa tentang apa yang menjadi kewajiban dan haknya yang senantiasa terus melekat dalam diri sepanjang hidup sebagai manusia.

    Oleh :

    J.Agustinus

    regina2009

    November 16, 2011 at 8:33 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: